Manusia Menurut Driyarkara

Manusia Menurut Driyarkara

Mudji Sutrisno SJ

DALAM meniti jejak-jejak sosok Driyarkara yang digedungkan dan diwujudi program pendidikan filsafat, dalam dies natalis ke XXXV (ke-35) inilah renung relevansi pikiran pokok Driyarkara untuk bangsa ini harus menjadi spirit perayaannya agar tidak menjadi ritual dan upacara belaka.

Jejak besar pertama pikiran Driyarkara adalah posisi manusia dengan eksistensinya sebagai pusat. Dalam Filsafat Manusia-nya, “manusia adalah siapa yang ber-apa dan apa yang bersiapa”. Kesiapaannya diuraikan Driyarkara dalam kata-kata: manusia adalah makhluk yang berhadapan dengan diri sendiri dalam dunianya. Manusia adalah subyek atau persona yang sadar. Dinamika persona adalah rentetan tenunan subyek sadar diri dan subyek yang berbuat dan ber-apa untuk menampilkan siapanya di dunia ini. Dalam proses mendunia inilah, sebagai persona, manusia dunia dalam kebudayaan. Salah satu hasil kebudayaan adalah struktur bernegara dan model kenegaraan. Di sinilah manusia menata, memanusiawikan sistem penggunaan kekuasaan untuk hidup bersama dalam sebuah negara.

Hidup bersama oleh Driyarkara disoroti sebagai sosialitas, yaitu eksistensi manusia dalam hidup bersama orang lain dan dalam hubungannya dengan sesama manusia. Tesis (pendapat) pokok Driyarkara di sini benar dahsyat yaitu: manusia adalah kawan bagi sesama. Manusia adalah rekan atau teman bagi sesamanya di dunia sosialitas ini (homo homini socius). Pikiran homo homini socius ini ditaruh untuk mengkritisi, mengoreksi, dan memperbaiki sosialitas preman; sosialitas yang saling mengerkah, memangsa, dan saling membenci dalam homo homini lupus (sesama adalah serigala bagi manusia).

Dalam tesis ini, sosialitas sebagai rekan dirumus kultural, artinya bersama-sama selalu mencipta tata hidup bersama yang makin sejahtera dalam sistem sosial, politik di satu pihak. Di lain pihak, memperlakukan sesama sebagai rekan (dalam keanekaragaman etnik, bakat, beda-beda watak, dan agama) adalah sekaligus saling menghantarkan menuju pusat kebahagiaan hidup manusia di sini dan nanti, yaitu Tuhan Sang Pencipta. Di sini nuansa religius sosialitas diletakkan.

Dengan tesis ini Driyarkara sekaligus meng-counter (melawan) tesis Thomas Hobbes, peletak sistem negara yang harus represif dan otoriter karena yang diatur adalah para serigala dengan kekuasaan mutlak Leviathan.

Karena itu pula, tata bernegara bagi Driyarkara adalah bagian dari tata kultural atau istilah kunci khas Driyarkara adalah proses kebudayaan, di mana manusia sebagai kawan dari muda harus dididik untuk mampu “mengartikan dunianya secara bebas dan kreatif”. Proses kebudayaan untuk merajut sosialitas antar-rekan agar bisa hidup bersama dalam ika dan kebhinekaan (khusus di Indonesia Driyarkara menunjuk bingkai sosialitas Pancasila) diwanti-wanti (diingat-sadarkan selalu) olehnya agar tidak menjadi proses “kebuayaan” (Kumpulan Karangan almarhum Prof N Driyarkara SJ, yang pernah dimuat di Basis, tempat, penerbit, tahun tidak disebut, hal 239-262).

Artinya, saling mengerkah dan memperlakukan sesama sebagai buaya. Konsekuensinya, Driyarkara lalu menulis bagaimana proses pembudayaan itu sebagai berikut:

“Sebagai kesimpulan…, dapat kita katakan, kekuasaan negara itu ditjiptakan manusia dalam pembudayaannya dan untuk pembudayaannya, agar supaya ia sampai ke eksistensi yang autentik, artinya sampai ke kemerdekaan yang selalu bergerak untuk memasuki SEIN atau ADA itu. Kebudayaan yang tulen harus bebas; tidak boleh dirintangi oleh kekuasaan manapun juga. …Bagi kita ada norma yang menentukan ketulenan dari kebudayaan yaitu: sesuai atau tidak sesuainya dengan Pantjasila” (Basis, 20,1970-1971, 256).

Jadi, relevansi pertama jejak pokok pikiran Driyarkara adalah tafsir kebudayaan (kultural) proses bernegara kita dan bersesama antar-warga sebangsa sebagai socius (kawan). Ketika menjelang Pemilu 2004 hiruk-pikuk tafsiran dan nilai kebersamaan kita terlalu jangka pendek politis, yaitu kursi jabatan dan kekuasaan, maka Driyarkara memberi tafsir kultural proses bernegara jauh ke depan dengan ukuran nilai religiositas, sosialitas adil, beradab, dari sila-sila Pancasila.

Ketika orang mengacu pada kebendaan materialisme dan untung rugi ekonomisasi, Driyarkara memberi kulturalisasi sebagai tafsiran keindonesiaan.

JEJAK agung kedua dari Driyarkara ada pada pikiran dan refleksi filsafatnya mengenai permainan dan homoludens: manusia yang senang bermain-main, tapi lupa bahwa permainan itu hanyalah sarana mencapai tujuan hidup bahagia bersama sesama dan dalam Tuhan.

Driyarkara memaparkan itu dalam judul “Permainan sebagai aktivisasi dinamika”, yakni untuk menuju pembebasan manusia (Filsafat Manusia, hal 79-86, terutama pedoman penutup pada hal 83-84). Begini bunyinya:

“Bermainlah dalam permainan tetapi janganlah main-main! Mainlah dengan sungguh-sungguh, tetapi permainan jangan dipersungguh. Kesungguhan permainan terletak dalam ketidaksungguhannya, sehingga permainan yang dipersungguh tidaklah sungguh lagi. Mainlah dengan eros, tetapi janganlah mau dipermainkan eros. Mainlah dengan agon tetapi jangan mau dipermainkan agon. Barang siapa mempermainkan permainan, akan menjadi permainan permainan. Bermainlah untuk bahagia tetapi janganlah mempermainkan bahagia” (Driyarkara, idem, ibid di atas).

Bila relevansi jejak pikirannya direnungi, semogalah perayaan Dies Natalis ke-35 yang akan diisi seminar bertema “Membudaya dan Membangsa Indonesia” 28 Februari 2004 Sabtu di Gedung Joang Menteng, Jakarta, dengan pembicara Dr Melani Budianto, Dr Hari Kustanto, Dr Asri bisa menjadi pengenangan pikiran dan obsesi Driyarkara untuk proses kebudayaan dan bukan kebuayaan (dari kata buaya).

Mudji Sutrisno SJ Pengajar Pascasarjana STF Driyarkara, Jakarta

 

 

2 thoughts on “Manusia Menurut Driyarkara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s