Foucault dan Posmodernisme

 

Foucault dan Posmodernisme

Oleh: I. Bambang Sugiharto *

 

“Posmodernisme” itu macam hantu. Orang bisa ngotot menganggapnya tidak ada dan omong kosong. Meskipun orang bisa juga bersikukuh menganggapnya kenyataan paling real hari ini. Orang bisa bilang bahwa itu mode intelektual yang sudah mati, atau malah keguguran sebelum lahir. Akan tetapi, bisa juga sebaliknya: paradigma yang baru saja lahir dan sedang berkembang kini. Istilah itu menyandang demikian banyak nuansa yang campur aduk, sehingga argumentasi apa pun sepertinya bisa saja diterima. Maka mendudukkan Foucault dalam konsep yang tidak jelas itu dengan sendirinya menjadi tidak bisa definitif pula.

 

Klarifikasi

Istilah “Posmodernisme” bisa menunjuk pada berbagai arti yang berbeda, bisa berarti : aliran pemikiran filsafati; pembabakan sejarah (erat terkait pada pergeseran paradigma); ataupun sikap dasar/ etos tertentu. Masing-masing membawa konsekuensi logis yang berbeda, meskipun bisa saling berkaitan juga. Apabila yang kita maksudkan adalah aliran fllsafat, maka ia menunjuk terutama pada gagasan-gagasan J.F. Lyotard, yang paling eksplisit menggunakan istilah itu. Namun bila yang kita maksud adalah babakan sejarah baru yang meninggalkan kerangka berpikir modern (“Pos” modern), maka mereka yang paling sibuk memetakannya adalah Charles Jeneks, Andreas Huysen, David Harvey dll. Di sini orang bisa berdebat dengan sangat nyinyir kapan persisnya terjadi pergeseran paradigma besar-besaran dan apa persis yang bergeser itu sehingga bisa menyebut zaman ini “post”-modern. Jangan-jangan segala pergeseran itu justru radikalisasi dan segala kecenderungan modern sendiri, sehingga alih-alih “post”, semua gelagat itu mesti disebut “most” : most-modern. Pada titik inilah kita mesti mendudukan berbagai wacana dan orang-orang macam Habermas, Anthony Giddens, Ernest Geliner dsb. Akan tetapi, bila Posmodernisme kita artikan dalam arti luas, yakni sebagai segala bentuk “sikap dasar” (etos) yang mencoba kritis terhadap pola pikir dan prinsip-prinsip modernisme, maka tiba-tiba “Posmodernisme” mencakup wilayah isi, aliran filsafat dan tokoh yang amat luas. Ia menjadi istilah-payung yang memayungi demikian beragam gelagat di berbagai bidang, bahkan yang saling bertentangan sekalipun. Celakanya, karena bisa berisi apa pun orang lantas juga menganggap istilah itu kosong tanpa isi. Dan istilah “posmo” menjadi bahan olok-olok untuk apa pun yang tidak lazim, ganjil, bahkan tidak senonoh. Ia menjadi karikatur. Maka tak usah heran bila tiba-tiba “Posmo” menjadi nama sebuah tabloid kienik. Dan bisa saja ada warung bakso atau situs porno yang bernama “Posmo” juga.

Tulisan ini cenderung berbicara tentang arti yang ketiga itu, yakni posmodernisme sebagai segala bentuk sikap kritis terhadap pola pikir dan prinsip-prinsip modernisme. Saya kira sulitlah disangkal bahwa hari-hari ini memang bermunculan demikian banyak kecenderungan kritis baru, yang pada titik-titik tertentu toh memaksa kita memahami kemodernan secara berbeda. Dan ini tidak hanya mencakup satu dua aliran pemikiran. Ia mencakup demikian banyak gejala yang sangat kompleks di segala bidang. Menganggap segala istilah “the end” yang heboh bermunculan dalam begitu banyak bidang hari-hari ini (The end of philosophy, of ideology,of science, of histoiy, of art, of nation-state, etc.etc.) sekadar sebagai kelatahan modis belaka rasanya terlalu simplistik dan menunjukkan kekurangpekaan yang serius.

Sebagai istilah-payung memang posmodernisme dalam arti luas ini bisa terasa kosong, bisa diisi apapun juga. Akan tetapi barangkali ia mesti dilihat ibarat keranjang besar, kosong, meskipun keranjangnya ada. Dan itu sebetulnya sama saja dengan istilah “modern” sendiri, yang juga bisa diisi apapun juga.

Orang bisa menyebut teknologi modern, pola pikir modern, pesantren modern, bahkan gaya cukuran modern atau gudeg modern,dst. Dan orang bahkan bisa menyebut berbagai aliran filsafat yang satu sama lain saling bertentangan macam rasionalisme, empirisme, materialisme dan idealisme, semua sebagai filsafat “modern”, alias berada dalam satu keranjang yang sama. Artinya, keranjangnya toh ada. Ada kecenderungan-kecenderungan dasar yang sama.

Beberapa kecenderungan dasar umum posmodernisme yang bisa dianggap sebagai kerangka keranjang, misalnya:

(1) kecenderungan menganggap segala klaim tentang “realitas” ( diri subyek, sejarah, budaya, Tuhan, dsb.) sebagai konstruksi semiotis, artifisial dan ideologis;

(2) skeptis terhadap segala bentuk keyakinan tentang “substansi” objektif (meski tidak selalu menentang konsep tentang universalitas);

(3) realitas bisa ditangkap dan dikelola dengan banyak cara dan sistem (pluralisme);

(4) paham tentang “sistem” sendiri dengan konotasi otonom dan tertutupnya cenderung dianggap kurang relevan, diganti dengan “jaringan”, “relasionalitas” ataupun “proses” yang senantiasa saling-silang dan bergerak dinamis;

(5) dengan begitu cara pandang yang melihat segala sesuatu dan sudut oposisi biner pun (either-or) dianggap tak lagi memuaskan; segala unsur ikut saling menentukan dalam interaksi jaringan dan proses (maka istilah “postmodernisme” sendiri pun mesti dimengerti dalam interrelasinya dengan “modernisme”, alih-alih melihatnya sebagai oposisi);

(6) melihat secara holistik berbagai kemampuan (faculties) lain selain rasionalitas, misalnya: emosi, imajinasi, intuisi, spiritualitas, dsb.; serta

(7) menghargai segala hal “lain” (otherness),yang lebih luas, yang selama ini tidak dibahas atau bahkan dipinggirkan oleh wacana modern (mis. kaum perempuan, tradisi-tradisi lokal, paranormal, agama, sehingga segala hal dan pengalaman yang selalu mengelak dan pola rumusan kita).

Akan tetapi, keluasan memang berarti juga kekaburan. lnilah memang masalahnya: kekaburan istilah “posmodern” sebagian besar adalah karena kekaburan istilah “modern” itu sendiri. “modern” dalam arti mana yang dikritik “posmodernisme” itu. Berbagai kekisruhan dalam menempatkan tokoh mana dijalur mana berakar pada persoalan itu. Artinya, kendati posmodernisme bisa dicanangkan prinsip-prinsip dasarnya yang sama, – yang membuatnya bisa mencakup demikian banyak aliran – toh selalu bisa juga dilihat perbedaan-perbedaannya pada tingkat rincian-rincian. Dan sudut ini, Foucault bisa dilihat baik sebagai salah satu tokoh posmodern sekaligus juga tokoh modern, tergantung dari perspektif mana kita melihatnya.

Foucault Posmodern

Tentu saja anggapan bahwa Foucault itu tokoh posmodern pertama-tama berawal dari identifikasi antara Posmodernisme dan Pos-strukturalisme, wilayah berkubangnya Foucault. Dan ini sebagiannya karena kecenderungan wacana estetik-kultural di AS sejak tahun 60’an. Kecenderungan revitalisasi Avantgardisme-Eropa di Amerika saat itu membawa tendensi-tendensi yang melahirkan arus estetik baru yang kemudian disebut “Posmodern”. Arus estetik ini misalnya bagaimana pun mengubah anggapan-anggapan ideologis modern tentang “style“,”bentuk” , “kreativitas” dan terutama tentang “tugas” dan “hakikat” kesenian dalam kehidupan dan masyarakat. Leslie Fiedler, misalnya, mengacu pada ekspressi seksual dalam seni, mengangkat “Pencerahan kelamin” (genital enlightenment) dan membela literatur pop. Ihab Hasan mengajukan “Estetika bisu” (Aesthetus of silence).  

Susan Sontag mengusulkan cara pandang erotik (lawan hermeneutik) terhadap seni, menekankan pengalaman sensual dalam apresiasi, alih-alih interpretasi kognitif-intelektual. Di situ yang ditolak bukanlah modernisme en bloc, melainkan modernisme yang telah menjadi bagian dan konsensus liberal konservatif, yang telah menjadi affirmatif, impoten dan kehilangan kekuatan kritisnya.

Kalau di situ terlihat Avantgardisme disusul oleh Posmodernisme estetik, maka saat itu serentak juga kritik seni ala Teori Kritis Frankfurt -yang cenderung mengutamakan kedalaman isi dan substansi rasional seni- disusul dan dilibas oleh kecenderungan baru: Pos-strukturalisme, yang lebih mengutamakan permainan semiotik di permukaan karya. Cara pandang terhadap karya seni yang tadinya menekankan kejeniusan sang senimannya (writerly text) diganti menjadi kebermainan si penikmatnya dalam mengotak-atik sesuka sendiri bentuk karya itu (readerly text) dengan kebahagiaan yang mereka sebut: jouissance ( Barthes). Konkruensi antara Posmodernisme dan Pos-strukturalisme inilah agaknya yang membuat orang cepat menghubungkan keduanya seolah satu kubu. Lagipula pos-strukturalisme yang memperkarakan teks apa pun itu memang juga cenderung mencampurbaurkan teks sastra dengan teks-teks kritis-filosofis, atas nama intertekstualitas.

Akan tetapi juga dari sudut isi gagasannya pos-strukturalisme memang merupakan sumber yang subur bagi argumen-argumen pos-modernisme. Kecenderungan Pos-strukturalisme untuk mengkritik konsep tentang manusia sebagai subjek rasional, konsep metafisis tentang pengetahuan, kebenaran, identitas, dan sejarah adalah salah satu landasan paling meyakinkan yang digunakan oleh Posmodernisme.

Bila dalam paradigma modern, kesadaran dan objektivitas adalah dua unsur yang membentuk subjek rasional-otonom, bagi Foucault konsep diri manusia sebenarnya hanyalah produk bentukan diskursus, praktik-praktik, institusi, hukum ataupun sistem-sistem administrasi belaka, yang anonim dan impersonal namun sangat kuat mengontrol (Madness and Civilization; The Order of Things dan The Archeology of Knowledge). Bahkan, Iebih dalam lagi, Foucault seperti ingin membongkar keterkaitan yang biasanya dianggap niscaya antara kesadaran, refleksi-diri dan kebebasan. Skeptisisme epistemologis yang ekstrim telah membuat Foucault menyejajarkan pengetahuan, subjektivitas dengan kekuasaan, dan karenanya menganggap segala bentuk kemajuan/ pencerahan entah di bidang psikiatri, perilaku seksual atau pun pembaharuan hukum – selalu saja sebagai tanda-tanda kian meningkatnya bentuk kontrol atas kesadaran dan perilaku individu. Bukan oleh agen atau rezim tertentu, melainkan oleh jaringan relasi-relasi semiotis, diskursif dan administratif, yang sebetulnya anonim-impersonal tadi.

Salah satu hal yang paling inspiratif bagi Posmodernisme adalah memang sikapnya dalam memahami fenomena modern yang bernama “pengetahuan” itu, terutama Pengetahuan Sosial. Ia memperkarakan tentang “Apa itu pengetahuan” secara genealogis dan arkeologis; artinya, dengan melacak bagaimana pengetahuan itu telah beroperasi dan mengembangkan diri selama ini Kategori-kategon konseptual macam “kegilaan”, “seksualitas”, “manusia”, dan sebagainya yang biasanya dianggap “natural” itu sebetulnya adalah situs-situs produksi pengetahuan, yang membawa mekanisme-mekanisme dan aparatus kekuasaan; kekuasaan untuk “mendefinisikan” siapa kita. Ilmu-ilmu sosial dan ilmu kemanusiaan adalah agen-agen kekuasaan itu. Dan kendati kekuasaan itu tidak selalu negatif-repressif melainkan juga positif-produktif (menciptakan kemampuan dan peluang baru), toh secara umum ia memaksa kita memahami kemodernan bukan lagi sebagai pembebasan, melainkan sebagai proses kian intensif dan ekstensifnya pengawasan (surveillance), lewat “penormalan”, regulasi dan disiplin (I, Pierre Riviere…; Discipline and Punish; Power/ Knowledge).

Hal menarik yang membuat Foucault sering dimanfaatkan oleh para jurubicara “posmo” adalah pengertiannya yang spesifik tentang “kekuasaan” itu. Baginya kekuasaan bukanlah soal intensi individu, rezim ataupun kelas sosial tertentu, bukan pula soal relasi produksi dan eksploitasi, melainkan jaringan relasi yang anonim dan terbuka. Sebenamya Foucault nyaris tidak mencanangkan sebuah teori ontologis tentang kekuasaan, sebab ia lebih berfokus pada partikularitas relasi-relasi (penjara, rumah sakit, rumah sakit jiwa, sekolah dan sebagainya.).  

Kekuasaan adalah soal praktik-praktik konkrit yang lantas menciptakan realitas dan pola-pola perilaku, memproduksi wilayah objek-objek pengetahuan dan ritual-ritual kebenaran yang khas. Praktik-praktik itu menciptakan norma-norma yang lalu direproduksi dan dilegitimasi melalui para guru, pekerja sosial, dokter, hakim, polisi dan administrator, misalnya. Kekuasaan mewujudkan diri dalam pengetahuan, tetapi pengetahuan pun lantas melahirkan kekuasaan.

Dengan begitu terlihat pula bahwa bagi Foucault perjalanan sejarah pun kehilangan unsur teleologis. Sejarah adalah permainan dominasi dan resistensi yang bergeser-geser, grouping dan regrouping. Dalam sejarah itu misalnya, manusia memang sempat terbebas dan rantai kontrol eksteral-fisik, tetapi hanya untuk dibelenggu oleh rantai kontrol internal-mental oleh diri sendiri ( Madness and Civilization). Maka istilah-istilah macam kesederajatan, kebebasan, keadilan, dan sebagainya hanyalah alat-alat bagi permainan relasi kekuasaan macam itu saja. Ini tentu berjajaran dengan pola pikir Nietzschean, yang misalnya melihat tuntutan orang tertindas terhadap keadilan semata-mata sebagai dalih mereka untuk mendapatkan kekuasaan. Dalam kerangka macam ini sejarah sebagai proses sinambung ke arah emansipasi bagi Foucault adalah semacam fantasi saja.

Demikian seperti halnya Derrida, yang juga tidak melihat arah akhir sejarah sebagai satu dan pasti, Foucault menguatkan kecenderungan pluralisme pemaknaan sejarah di kalangan postmodernis. Bagi kaum Pos-strukturalis “makna” memang bukan sesuatu yang mengandung keniscayaan. Korespondensi antara sistem semiotik/ diskursif dengan realitas bukanlah satu banding satu. Ia selalu membawa banyak kemungkinan dan mudah berubah.

Akhirnya perlu disebut jasa lain dari Foucault bagi Posmodernisme adalah: ia menampilkan Otherness secara lebih konkrit dan grafis, dengan analisis-analisisnya atas pihak-pihak yang dalam modernitas biasanya dianggap tidak normal dan tidak lazim, yakni kaum homoseksual, orang gila, tubuh, rumah sakit, dan sebagainya. Dan dengan begitu membukakan wilayah-wilayah wacana baru.

Foucault Modern

Sebenarnya karya-karya Foucault, seperti halnya karya beberapa posstrukturalis lain, bisa juga dilihat sebagai pembacaan atas kemodernan. Artinya, alih-alih dikaitkan dengan Posmodernisme, bisa lebih tepat dilihat sebagai semacam “Arkeologi atas Modernisme”, alias pembacaan retrospektif atas batas-batas modernisme dan kegagalan ambisi-ambisi filosofis-politisnya yang ternyata tetap saja borjuistik.

Langgam dasar dari karya-karya Foucault dari sudut tertentu sebetulnya juga mirip dengan berbagai kritik atas modernisme seperti yang dilayangkan oleh Weber dan bergema pada sekolah Frankfurt (Adorno, Horkheimer). Misalnya, bahwa modernitas itu menekankan rasionalitas instrumental, berfokus hanya pada cara/ sarana (means) dan bukan pada tujuan (end); bahwa rationalitas ini mewujud dalam rasionalitas ilmiah, dsb. Bagi Foucault pun ilmu, yang lewat kecenderungan reifikasinya mengakibatkan keterlepasan dari misteri tujuan dan nilai hidup ( disenchantment) , adalah mitos baru. ilmu bicara banyak tentang siasat-siasat teknis, tetapi tak mengerti apa-apa tentang nilai dan tujuan hidup. Hal lain lagi adalah bahwa baginya sosok kekuasaan modernisme yang dominatif itu tidak lagi individual ataupun berupa kelas-kelas sosial, melainkan berupa mesin administratif “netral” dan impersonal bagai sosok Panopticon, dan bekerja berdasarkan aturan-aturan abstrak ( Discipline and Punish). Dan ini sebetulnya nyaris berjajaran juga dengan analisis Weber atas birokrasi atau proses kerja dalam pola organisasi kapitalisme, yang melihat pergeseran pola dominasi dari pola “tradisional” ke “legal-rasional”.

Akan tetapi cara dan sasaran pembacaan ala Pos-strukturalisme pada umumnya atas modernisme memang berbeda juga dari kritik modernisme ala Sekolah Frankfurt. Barangkali akar perbedaannya terutama terletak pada perbedaan pengertian tentang konsep “modernisme” itu sendiri. Bagi Habermas, misalnya, seperti halnya bagi tokoh Frankfurt Iainnya, “modern” itu berarti tradisi Pencerahan dan supremasi rasionalitas, yang hendak mereka selamatkan.

Sedang yang dimaksud dengan “modern” oleh para filsuf Pos-strukturalis agaknya adalah: tradisi kritis dekonstruktif Nietzschean, yakni energi “estetik” yang cenderung membongkar segala bentuk representasi. Ini memang membawa konsekuensi logis yang sangat berbeda. Dari perspektif Pos-strukturalis ini misalnya, rasionalitas Pencerahan adalah justru sosok teror dan pengekangan totaliter-struktural, yang melahirkan narasi-besar Hegel ataupun Marx, tetapi juga berbuntut pada totaliterisme Auschwitz ataupun kesewenangan ideologis Gulag. Dan sudut ini perspektif Pos-strukturalis persis berbeda secara diametrikal dengan perspektif Frankfurt.

Itu pula sebabnya kata kunci dalam kritik modernisme versi Pos-strukturalisme misalnya bukanlah “anxiety”, “alienasi” ataupun “negativitas”, melainkan “transgressi”, “tekstualitas”, “presensi”, “jouissance”, dan sebagainya. Kalau teori kritis beraroma melankolis, murung dan muram, maka pos-strukturalisme lebih diwarnai kebermainan gembira yang liar bagai merayakan anarkisme dan nihilisme. Istilah “gay science” dari Nietzsche bagus bila dikenakan pada perilaku kaum Pos-strukturalis.

Dalam kerangka itu sangatlah menarik artikel pendek Foucault yang berjudul What is Enlightenment. Secara eksplisit di sana ia menolak mengambil sikap pro ataupun kontra terhadap Pencerahan, sebab pemosisian terhadap altematif macam itu baginya totaliter dan simplistik, terasa bagai tindakan “pemerasan” (blackmail). Ia juga menganggap tidak penting istilah “pra-modern”,”modern” ataupun “posmodern” yang menunjukkan babakan-babakan sejarah. Sikap “dialektis” ataupun melihat segalanya dalam kerangka both-and ( “ini” sekaligus “itu”) baginya juga bukan jalan keluar. Yang dicanangkannya adalah sikap realistis yang melihat kenyataan bahwa dari sudut tertentu kita memang telah dibentuk oleh Pencerahan itu, namun ini tidak berarti kita mesti mempertahankannya dengan mencari dasar kesahihan baru bagi prinsip-prinsip universal Pencerahan yang telah ditancapkan oleh Kant. Alih-alih mencari kembali batas-batas pengetahuan dalam rupa struktur formal yang niscaya dan universal ala Kant, katanya, justru perlulah kita keluar dari batasan-batasan macam itu; mencoba kemungkinan-kemungkinan baru yang mendobrak anggapan tentang keniscayaan-keniscayaan macam itu. Yang diperlukan adalah: transgressi. Kalau Kant terobsesi oleh prinsip-prinsip universal, maka kita perlu bertanya mengapa tidak ada tempat yang cukup berarti bagi yang partikular dan kontingen, misalnya.

Dengan itu Foucault bukannya hendak menolak modernisme, melainkan memahami modernisme secara berbeda dari Kant. Bila bagi Kant hal yang inti dari modernisme Pencerahan adalah cita-cita menjadikan manusia matang, dewasa dan otonom, maka Foucault meragukan hasilnya. Nyatanya, katanya, hingga hari ini manusia tidak lebih matang dan dewasa ataupun otonom. Foucault Iebih suka melihat Pencerahan atau kemodernan dari paham penyair Baudelaire. Dalam kerangka Baudelairean modernitas adalah etos, sikap dasar, yang selalu memperhadapkan kenyataan real hari ini dengan potensi kebebasan yang mampu mengatasi realitas itu. Manusia modern di sini bukanlah manusia yang makin menemukan rahasia-rahasia atau kebenaran terdalamnya, bukan pula yang makin mampu membebaskan diri menuju diri sejatinya, melainkan yang terus-menerus mampu menciptakan kembali dirinya, mampu mengatasi batasan-batasan yang telah dicangkokkan atasnya. Dalam rangka itulah perlu kini kritik-kritik genealogis dan arkeologis, dan bukan kritik transendental Kantian. Artinya, yang diperlukan adalah melacak kembali jaringan-jaringan peristiwa konkrit dalam sejarah yang bisa memperlihatkan bagaimana pemahaman diri kita itu telah dibentuk, mengapa batasan-batasan tertentu dianggap niscaya dan universal padahal tidak mesti begitu, dan sebagainya. Ontologi kritis atas diri, katanya, mestinya berupa etos yang selalu berani melakukan analisis historis atas segala jenis batas yang dikenakan pada kita sekaligus bereksperimen untuk keluar dari batasan-batasan itu.

Segala kritik Foucault atas “diri subjek” modern agaknya mesti diletakkan dalam kerangka “Ontologi kritis atas diri” itu. Pada titik ini terlihat makin jelas ambiguitas sikap Foucault terhadap kemodernan. Di balik segala omongannya yang sangat berbau “antihumanistik” atau “anti-Subjek”, sebetulnya ia toh tidak naif, ia masih melihat manusia sebagai subjek tertentu. Hanya saja cara memandangnya memang khas. Maka Foucault sebetulnya masih membela modernisme dan modernitas, namun dengan perspektif dan caranya sendiri.

Bahkan ada yang menganggap omongan-omongan Foucault adalah nyanyian angsa (Swansong) dari kemodernan itu sendiri. Akan tetapi kita tahu juga memang, nyanyian angsa paling indah adalah nyanyian terakhir sebelum ia mati. Omongan-ornongan kaum pos-strukturalis memang memukau dan mengasyikkan bagai binar-binar kembang api. Namun, kembang api terasa memukau hanya di malam ri ketika modernisme sudah malam, gelap dan frustrasi.

*  Penulis adalah dosen filsafat pada Universitas Parahyangan, Bandung

 

Daftar Pustaka

Foucault, M., Madness and Civilization, London: Tavistock, 1967

—, The Order of Things, London: Tavistock, 1970

—, The Archeology of Knowledge, London: Tavistock, 1972

— , Power/Knowledge, selected interviews and other writings 1972-1977, ed. C. Gordon, Brighton: Harvester Press, 1980

— , Discipline and Punish, London: Penguin, 1977

—, “What is Enlightenment” dalam Knowledge and Postmodernism in historical perspective, ed. Joyce Appleby et al., New York : Routledge, 1996

sumber: http://filsafatkita.f2g.net/mainsite.htm

 

One thought on “Foucault dan Posmodernisme

  1. apa yang ingin dikritik foucault adalah dialektika hegel yang mewarnai hampir seluruh pemikiran modern. Dialektika bagi foucault tidak mungkin….what is dialektika..?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s