DISKURSUS TEKNOLOGI EMBRYONIC STEM CELLS DAN KLONING DARI DIMENSI BIOETIKA DAN RELEGIOSITAS (Kajian Filosofis dari Pengalaman Empirik)

 

DISKURSUS TEKNOLOGI EMBRYONIC STEM CELLS DAN

KLONING DARI DIMENSI BIOETIKA DAN RELEGIOSITAS

(Kajian Filosofis dari Pengalaman Empirik)

Muhammad Sasmito Djati

 

Polemik Teknologi Pembiakan Embrio.

Teknologi pembiakan embrio (pembiakan embrio di cawan petri) sebenarnya sudah lama berkembang, terutama dalam percobaan-percobaan di laboratorium, dan dilakukan pada binatang, bahkan di dunia peternakan sudah berkembang sedemikian pesat, sehingga menghasilkan banyak hewan ternak jenis unggulan, penelitian-penelitian di bidang ini telah dapat meningkatkan produksi peternakan di mana-mana. Demikian pula di bidang medis sudah banyak percobaan-percobaan medis di laboratorium memanfaatkan teknologi ini digunakan untuk memecahkan banyak masalah pengobatan dengan menggunakan percobaan pembiakan embrio hewan di cawan petri. Perkembangan teknologi ini mulai menjadi berita besar setelah lahirnya Luis Brown seorang anak manusia hasil perkawinan yang dilakukan melalui proses fertilisasi in vitro di akhir dekade tahun tujuhpuluhan, hasil teknologi ini mulai mengundang reaksi etika di kalangan rohaniawan, ulama dan pakar etika.

 

Dari sisi teknologi, meskipun perkembangan metode pembiakan embrio blastosis sudah dapat dilakukan secara relatif sempurna ternyata masih menyisakan banyak pertanyaan yang belum secara baik terjawab oleh para peneliti, bahkan menghasilkan beberapa mahzab metode kultur embrio. Mahzab metode pembiakan ini hanya disebabkan adanya fenomena “developmental block in vitro”, yang selalu terjadi dalam proses pembiakan embrio. Kasus ini sebenarnya kasus sederhana bila dibandingkan dengan persoalan yang jauh lebih rumit pada tahap pembiakan embrio lebih lanjut, tetapi menjadi polemik panjang bagi para peneliti yang menghasilkan kesimpulan berbeda-beda. Untuk memudahkan memahami beberapa pertanyaan tersebut, kita coba berpikir setback mulai dari peristiwa sebelum fertilisasi.

 

Peristiwa kapasitasi sperma, dimana sperma sebagai mahluk hidup yang berukuran relatif sangat kecil, tetapi dapat melakukan tindakan yang luar biasa yaitu melakukan perjalanan panjang dengan segala macam tantangannya sampai dia bisa menembus zona pelusida. Sepertinya dia bisa mengenali benar sifat-sifat sel telur, bagaimana bisa begitu? Padahal sel telur adalah mahluk dari dunia lain yang yang belum pernah dikenalinya. Begitu pula bagaimana sel telur mampu menangkap sel sperma dan menerimanya dan akhirnya menyatu menjadi bagian dari dirinya? Yang selanjutnya berkembang menjadi satu individu diploid dan berkembang dengan begitu indahnya menjadi individu dewasa. Belum lagi bila kita memahami peristiwa singami yaitu menyatunya dua inti haploid, secara acak antara kromosom dan DNA dari dua mahluk yang berbeda menjadi individu baru yang sama sekali lain dengan orang tuanya dengan komposisi sel yang diploid. DNA tersebut membentuk untaian berganda (berpasangan) berpilinpilin berbentuk pita yang sangat tertata rapi, yang masing-masing menyandikan fungsi tertentu, yang bila terekspresi akan menunjukkan perangai dari mahluk hidup tersebut, bahkan para peneliti begitu yakin catatan kehidupan mahluk tersebut ada disini. Untaian DNA tersebut oleh para ilmuwan sering disebut “dogma sentral kehidupan” (Klug dan Cumming, 2000), sedangkan peneliti lain menyebutnya sebagai “blue print of life” (Hartl dan Jones, 1998) dari individu baru tersebut. Para peneliti yakin bahwa di sini catatan destinasi dari kehidupan mahluk tersebut. Kalau direnungkan lebih dalam, para peneliti bidang biologi molekular memahami untaian DNA tersebut sepintas seperti pemahaman mekanistik diterministik mirip pandangan para fisikawan yang sering disebut paradigma Newtonian. Yaitu apabila kondisi awal dari sesuatu dapat ditentukan terlebih dahulu secara benar dan akurat, maka kondisi berikutnya dapat diprediksi secara benar dan tepat. Pandangan-pandangan semacam ini sering dianggap pandangan fisika klasikal, ini berarti setelah terjadinya peristiwa singami, dimana rangkaian untaian DNA telah terbentuk, maka kita secara teoritis dapat memprediksi destinasi mahluk tersebut secara benar dan tepat. Akan tetapi apabila kita memahami lebih dalam lagi, berapa panjang untaian DNA tersebut? Pemerintah Amerika Serikat mencoba membuat proyek besar yang sering disebut “human genome project”. Pada saat ini telah dipetakan lebih dari 3 milyar pasangan basa yang dimiliki manusia. Dapat dibayangkan seandainya kita dapat mengetik pasangan basa tersebut dengan ukuran huruf (font) 12, berapa banyak kertas yang kita butuhkan? Kalau kita membuat pita berapa kilometer panjangnya? Padahal itu hanya gambaran paling sederhana dari untaian DNA. Gambaran tersebut hanya merupakan gambaran susunan anatomis morfologis dari DNA saja, kita belum bicara fungsi dari pasangan basa tersebut yang akan jauh lebih sulit lagi.

 

Kalau kita mencoba berandai-andai saja barangkali ada sekelompok peneliti mencoba untuk mengetahui fungsi setiap pasangan basa tersebut dari masing-masing pasangan basa yang telah diketahui oleh manusia, sekali lagi ini hanya berandai-andai saja. Dapatkah kita memprediksi destinasi dari masing-masing individu dengan tepat dan benar? Jawaban hampir pasti niscaya dan mungkin, dapat dibayangkan ekspresi sebuah gen itu dipengaruhi oleh banyak faktornya, mulai dari inherent sifat gen itu maupun kondisi lingkungannya dan interaksi dari sifat inherent dari gen tersebut dengan lingkungannya, padahal variable pasangan basanya lebih dari tiga milyar, masing-masing gen mempunyai sifat inherent yang berbeda dan kemungkinan adanya kombinasi interaksinya yang bersifat sinergis antagonistik, dominan maupun resesif. Meskipun hanya berandai-andai hal tersebut niscaya dan mungkin itulah pandangan para ahli yang mengikuti paham paradigma teori kuantum suatu pandangan yang oleh para filosof disebut pandangan posmodern.

 

Di sisi lain kita yakin ada sebuah penciptaan peristiwa alam yang telah dirancang dengan detail. Sehingga dengan keyakinan semacam ini peristiwa tersebut bukan peristiwa kebetulan dan peristiwa keniscayaan seperti banyak diungkapkan oleh para peneliti. Secara biokimiawi bahan penyusun sperma maupun sel telur telah banyak diketahui, Tetapi jawaban biokimiawi tidak dapat memuaskan jawaban tentang proses penciptaan. Bagaimana rangkaian peristiwa tersebut terjadi? Sebagai ilustrasi apabila kita punya tembaga, punya aluminum, dan beberapa bahan pembuat pesawat terbang, setelah bahan-bahan kita kumpulkan dapatkah dia menjadi pesawat terbang dengan begitu saja? Atau mungkinkah jadi secara kebetulan? Saya yakin adanya pesawat terbang pasti didesain sedemikian rupa, dengan rancangan yang sangat teliti dan tujuan pembuatan yang jelas, maka terciptalah sebuah pesawat terbang, jadi bukan merupakan peristiwa kebetulan. Atas dasar ini rasa relegiositas saya terusik kembali. Saya sangat sependapat dengan Albert Einstein seorang filofos postmodern lainnya, seperti ungkapnya yang menyatakan bahwa “Tuhan tidak pernah melempar dadu!” Apakah benar peristiwa menakjubkan itu hanya sekedar keniscayaan (necessity) atau hanya kebetulan (possiblity). Seharusnya kita yakin, peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang terencana dan ditata secara detail dan apik dengan tujuan yang jelas.

 

Perkembangan Teknologi Kloning Embrio dan Embryonic Stem Cells.

Tahun 90-an yang lalu banyak sekali perkembangan di bidang ilmu embriologi. Di awal tahun 90-an kita teringat sebuah film fiksi ilmiah yang sangat terkenal yaitu “Jurasic Park” yang memfiksikan bahwa Dinosaurus dapat diperbanyak melalui sel-sel darahnya yang terawetkan secara alami. Pada saat itu, film ini dianggap khayalan atau fiksi yang tidak masuk akal, karena tidak mungkin manusia membuat klon hewan yang berasal dari sel hewan dewasa. Pada saat itu klon hewan-hewan tingkat tinggi hanya dibuat dari sel toti/pluripoten yang berasal dari sel-sel embrio. Tetapi pada tahun 1997 dunia hampir tertegun dan terhenyak dengan ditemukannya teknologi transfer inti, dimana seekor domba lahir dari hasil perbanyakan sel hewan dewasa yaitu si domba “Dolly” oleh Ilmuwan Skotlandia yang bernama Ian Wilmut. Ternyata film fiksi ilmiah “Jurasic Park” bukan hanya film fiksi, tetapi benar-benar merupakan film ilmiah, mimpi-mimpi manusia bisa menjadi kenyataan. Bila kita melihat peristiwa ini pandangan diterminisme bisa goyah, bagaimana mungkin sel-sel hewan dewasa yang sudah determined bisa diubah menjadi individu baru kembali? Bukankah itu suatu keniscayaan saja? Dari sini sepertinya teori kuantum tampaknya mendekati kebenaran. Sesuatu tidaklah mesti determined tetapi tetap necessity dan possibility. Perkembangan teknologi kloning embrio memang cukup menghebohkan bukan hanya dunia sain dan teknologi tetapi juga etika. pernah saya merenung bagaimana kalau kita membongkar makamnya Abraham Lincoln untuk membuat klonnya, agar terlahir kembarannya agar supaya pada suatu hari nanti negara adi daya AS kembali ke khitah perjuangannya, untuk membebaskan perbudakan-perbudakan dan penindasan-penindasan. Atau bagaimana kalau kita membuat klon Bapak pendiri bangsa ini yaitu Bung Karno, agar suatu saat nanti kita benar-benar menjadi bangsa yang bersatu utuh mempunyai visi nasionalisme yang jelas untuk masa depan bangsa ini, seperti yang beliau cita-citakan. Bahkan penemuan ini juga mengilhami pemikiran kosmologis fisikawan Stephen Hawking dalam pidato “Millennium Evening”. Dia perkirakan di masa yang akan datang akan ada manusia-manusia super (genetically improved human). Relung-relung kehidupan kemanusian juga terkena imbas dari penemuan ini, tetapi saya sebagai peneliti di bidang ini sejak awal tidak begitu tertarik untuk mengembangkan teknologi kloning semacam ini, karena dari segi aplikasi teknologinya, teknologi ini masih banyak mengandung masalah, apalagi bila dilihat dari dimensi etikanya Banyak ilmuwan yang kurang memahami teknologi kloning ini berharap terlalu banyak terhadap hasil penelitian ini tanpa tahu kesulitan teknis dan problem ilmiahnya yang masih banyak pertanyaan. Antara lain telah diketahui ternyata si Dolly mengalami proses penuaan lebih cepat di bandingkan umur kelahirannya. Hasil penemuan ini sebenarnya mirip dengan pengamatan yang saya lakukan di media biak, yaitu klon sel-sel embrio akan terus berkembang sesuai dengan tahap pembelahannya, meskipun sel tersebut dapat merekontruksi menjadi satu individu baru (Djati, 1998). Dapat dibayangkan apabila kita lakukan ini pada manusia, dimana teknologi ini akan menghasilkan seorang bayi tetapi sebenarnya dia sudah berumur dewasa. Jelas akan mengganggu rasa kemanusiaan kita. Belum lagi masalah lain berupa teknik pembiakkannya dan tingkat keberhasilannya yang masih sangat rendah. Tanpa mengecilkan arti penemuan ini, saya masih lebih tertarik melakukan penelitian di bidang teknologi Embryonic Stem Cell, karena saya melihat teknologi ini lebih jelas manfaat dan tujuannya. Di samping itu, masih sangat banyak pertanyaan ilmiah yang belum terjawab, sehingga sangat menarik untuk dikaji secara ilmiah. Teknologi Embryonic Stem Cell (ESC) merupakan teknologi pembiakan sel-sel embrio berupa sel-sel inner mass mulai dari tahap perkembangan blastosis sampai ke tahap berikutnya. Teknologi ini bukan untuk memperoleh embrio ataupun fetus utuh melainkan untuk mengkultur sel-sel inner mass, setelah diisolasi dan dibiakkan secara in vitro. Beberapa peneliti berharap teknologi ESC ini dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi beberapa percobaan pembuatan hewan transgenik. Teknologi ESC berkembang pesat di awal tahun 80-an terutama yang berkaitan dengan percobaan-percobaan sel-sel tumor. Pada mencit, sel-sel tumor dengan mudah berkembang biak melalui transplantasi embrio atau sel-sel embrio di bagian extra-uterine. Percobaan semacam ini sangat bermanfaat untuk menganalisa banyak aspek diferensiasi sel, maupun biologi perkembangan dan pengobatan tumor pada mamalia dengan keberhasilan percobaan sangat tinggi (Damjanov dkk,1987).

 

Terilhami dari prospek pengembangan hewan transgenik yang sangat berguna di bidang peternakan maupun kedokteran serta penelitian biologi dasar tentang teori diferensiasi dan proliferasi sel, dan di samping itu tersedianya banyak embrio tersisa akibat penelitian disertasi saya, sejak tahun 1996 saya mencoba membuat percobaan Embryonic Stem Cell. Permasalahan utama dalam teknologi ESC adalah bagaimana caranya menjaga sel-sel ESC tetap mengalami proliferasi tetapi tidak terjadi diferensiasi. Permasalahan ini didasari sebuah pemikiran bahwa dalam upaya efisiensi pembuatan hewan transgenik membutuhkan stok ESC cukup banyak untuk digunakan sebagai sel donor untuk injeksi blastosis dalam pembuatan hewan transgenik. Diharapkan sel-sel tersebut merupakan sel yang masih bersifat pluripoten. Saya menyusun kerangka konsep teori untuk mengatur strategi dalam membiakkan dan mengisolasi sel-sel ES, dengan harapan bahwa ESC yang saya biakkan tersebut dapat dengan cepat mengalami proliferasi tetapi tidak terjadi diferensiasi sel. Penyusunan kerangka konsep teori ini di landasi oleh ketidak berhasilan para peneliti terdahulu terutama dalam membiakkan dan mengisolasi.

 

Pada saat saya merencanakan penelitian tersebut, ternyata telah banyak jurnal yang menyatakan bahwa teknologi untuk menghambat proses diferensiasi sel di dalam media biak hampir mustahil dilakukan. Informasi ini membuat saya berfikir kembali apakah mungkin penelitian ini dilanjutkan? Tetapi di akhir tahun 1998 John Gearheart seorang peneliti dari Universitas John Hopkin mempublikasikan hasil riset ESC bahwa teknologi ESC memungkinkan kita dapat membiakkan klon ESC manusia secara simultan dengan tujuan akhir untuk mendapatkan sel-sel “spare part”. Pada penelitian ini Gear Heart menggunakan klon ESC manusia (lihat gambar 1). Sel-sel tersebut dibiarkan melakukan diferensiasasi pada media biak, dan dapat menghasilkan tipe-tipe sel yang berbeda-beda berupa stem sel neuron, muscle dan hemapoietic. Sel-sel inilah yang oleh para peneliti disebut sebagai sel-sel “spare parts”. Meskipun penelitian ini baru penemuan awal dari sebuah rencana penelitian jangka panjang, tetapi dapat mengilhami banyak peneliti untuk melakukan penelitian yang lebih besar lagi, terutama bagaimana caranya membiakan sel-sel embrio tersebut menjadi sel-sel “spare part” tertentu dengan harapan dapat diaplikasikan dalam transplantasi sel. Hasil penelitian tersebut memang merubah niat saya untuk mencoba menghambat diferensiasi sel-sel embrio, tetapi justru dibiarkan sel-sel tersebut berdiferensiasi dan berkembang menjadi berbagai kemungkinan sel-sel tertentu. Dari hasil penelitian saya, teknologi ini sangat mungkin dikembangkan di Indonesia (Lihat gambar 2) mengingat sumber daya peneliti mempunyai potensi untuk mengembangkannya.

 

Gambar 1. Klon human ESC hasil penelitian Gear Heart (1998) yang telah

dikembangkan di USA.

 

Gambar 2 : Klon Goat ESC hasil penelitian Djati (2002) yang telah dilakukan di Malang-Indonesia. Prospek Pengembangan Embryonic Stem Cells

 

Teknologi ESC dan teknologi kloning dengan menggunakan transfer inti menjadi suatu teknologi yang sangat potensial prospektif untuk aplikasi di bidang kedokteran dan peternakan. Penemuan teknologi ini membuat para peneliti mendapatkan inspirasi untuk mengembangkan penelitian-penelitian di bidang ESC dan teknologi transfer inti serta teknologi rekayasa genetika untuk dapat menyelesaikan masalah kedokteran yang selama ini manusia seperti pasrah, tanpa bisa mengobatinya, misalnya beberapa penyakit digeneratif permanen seperti diabetes mellitus, alzheimer, parkinson, dan penyakit-penyakit kelainan genetis, bahkan penyakit AIDS. Pada hakekatnya penyakit-penyakit tersebut sudah dianggap penyakit yang sudah tidak mungkin disembuhkan karena adanya kerusakan permanen dari sel-sel tubuh manusia. Beberapa peneliti berspekulasi apabila seseorang membutuhkan transplantasi sumsum tulang belakang untuk menyembuhkan penyakit kankernya, maka kemungkinan dia untuk mendapatkan donor yang bersedia dan mempunyai kondisi genetis yang sesuai akan sulit. Kesulitan ini dapat diatasi dengan menggunakan kombinasi teknologi transfer inti dan rekayasa genetik, dengan memanfaatkan sel telur yang telah dienukleasi dan digantikan materi genetik yang sesuai, maka hanya dalam beberapa hari dia akan mendapat stem sel yang sesuai untuk ditransplasikan kepada pasien tersebut.

 

Rideout dan Hochedlinger (2002) menggunakan combine therapeutic cloning melakukan enukleasi sel telur tikus dan digantikan sel kulit dari tikus dewasa yang menderita penyakit genetis immuno deficiency. Percobaan ini menggunakan metode untuk memutar kembali developmental clock nucleus sel dewasa agar terjadi proses reprograming sel tersebut menjadi sel totipoten. Harapannya sel tersebut dapat merekonstruksi menjadi individu baru berupa embrio dengan kondisi genetik yang identik dengan donor. Setelah sel berkembang menjadi blastosis, sel diisolasi dan dibiakkan menjadi ESC.

 

Gambar 3: Metode combine therapuitic cloning oleh Rideout dan Hochedlinger (2002)

 

Culture tail tip cells

Nuclear transfer into

enuclated oocyte

Activate and culture to

blastocyst

Isolate isogenic

Rag2 -/- cells

Repair Rag2 gene

in ES cells

Differentiate

into EBs

Dissociate Ebs and infect

with HoxB4iGFP

Espand HSC culture

and transplant

Rag2 -/-

 

Terapi genetis dilakukan pada sel-sel tersebut, agar supaya sel-sel tersebut dapat ditransplantasikan, diperlukan adanya tambahan teknologi penyisipan immunocompromizegene, artinya tinggal selangkah lagi penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk terapi genetis pada manusia (lihat gambar3).

 

Beberapa penyakit kebutaan seperti luka mata, gangguan kornea maupun katarak, selama ini masih bisa diatasi di dunia kedokteran, katarak dapat dibuang, kornea dapat ditransplantasikan, glaukoma dapat disembuhkan. Tetapi bila terjadi kerusakan ataupun kematian pada sel-sel fotoreseptor akibat age-related macular degeneration, retinitis pigmentosa dan diabetes sangat sulit sekali disembuhkan, dan pasien-pasien ini akan mengalami kebutaan total seumur hidupnya. Penggunaan stem sel baik embryonic maupun adult stem cell sangat bermanfaat seperti penelitian yang dilakukan oleh Young (2002).

 

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa ketika stem sel diinjeksikan ke retina tikus yang buta karena faktor-faktor genetis, ada sesuatu yang menakjubkan, sel-sel tersebut bergerak menuju retina yang rusak dan berubah menjadi sel-sel retina normal (normal-looking retina) dengan serabut-serabut saraf penglihatan normal (normal-looking nerve fibers) dan mengembang menuju lokasi penglihatan normal, seperti saraf-saraf optic memberitahu otak (susunan saraf pusat) apa yang sedang terjadi di depan mata tikus tersebut. Young (2002) juga menambahkan bahwa stem sel mempunyai potensi untuk melakukan rewriting developmental rules, sehingga dalam kasus ini stem sel berpotensi untuk memperbaiki retina yang rusak. Meskipun dari penelitian ini masih belum bisa menunjukkan bahwa tikus tersebut dapat melihat, tetapi dari penelitian ini sudah menunjukkan satu langkah ke depan yang sangat berarti dalam aplikasi penelitian ESC.

 

Resiko Aplikasi Teknologi Embryonic Stem Cells

Selain hal-hal positif tentang teknologi ESC, ternyata pada aplikasinya banyak sekali kendala teknis yang dihadapi oleh para peneliti bidang ini. Antara lain adanya resiko sel-sel ESC tersebut berkembang menjadi sel-sel tumor ataupun kanker. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa problematika pembiakan sel secara in vitro yang dilangsungkan dalam waktu yang cukup lama akan menyebabkan sel-sel tersebut mengalami transformasi kromosomal, sehingga sel-sel tersebut akan menjadi aneuploid. Peristiwa ini sering disebut “in vitro transformation”. Perilaku sel tersebut sebenarnya secara teoritis sudah diketahui oleh banyak peneliti sejak lama. Seperti Paul (1975) yang menyatakan bahwa bila sel-sel dibiakkan dalam waktu yang lama, sel akan mengalami transformasi secara spontan. Sedangkan Quintilla dkk. (1986) menyatakan sel-sel tersebut bisa menjadi sel-sel abadi/lestari (immortal cell lines), sel-sel neoplastik, ataupun sel-sel malignant. Penyebab-penyebab kejadian transformasi sel sampai sejauh ini belum sepenuhnya dapat diatasi oleh para ilmuwan, adanya kompleksitas sistem pembiakan untuk menghasilkan sel-sel yang telah terdiferensiasi merupakan salah satu penyebabnya. Sehingga pada saat ini para peneliti ESC sebenarnya masih berjuang untuk mengatasi hal ini. Apabila para peneliti telah dapat mengatasi masalah ini, mereka masih juga harus menghadapi masalah lain yaitu bagaimana mengisolasi sel-sel yang telah terdeferensiasi? Sel yang telah terdeferensiasi adalah sel yang sudah mempunyai fungsi sangat spesifik, sehingga bagaimana mengisolasinya secara tepat tanpa mengganggu dan merusak sifat spesifikasinya, merupakan problem ilmiah yang tidak mudah dijawab dengan tuntas, belum lagi persoalan transplantasi sel yaitu persoalan immunologis bagi resipien.

 

Masalah-masalah tersebut menyebabkan beberapa peneliti yang menentang penggunaan teknologi klon embryonic stem cell menganjurkan untuk tidak menggunakan embryonic stem cell dalam mengatasi problem penyakit degeneratif atau penyakit genetis. Mereka lebih setuju untuk menggunakan adult stem cell seperti yang di lakukan oleh Cavazzana-calvo (2000) yang dapat menyembuhkan 3 bayi penderita penyakit genetic immunodefiensi dengan menggunakan terapi genetis yaitu dengan menggantikan stem cell dari sumsum tulangnya dengan stem cell sumsum tulang belakangnya yang telah dilakukan terapi gen, sehingga tidak terjadi penolakkan terhadap transplantasi ini oleh tubuhnya sendiri. Bayi-bayi tersebut tumbuh menjadi anak-anak normal tanpa ada perlakuan pengobatan lagi. Penggunaan adult stem cell dapat mengatasi kesulitan sistem kultur dan sistem isolasi ESC, sehingga peluang sel-sel tersebut mengalami transformasi in vitro dan persoalan isolasinya dapat diatasinya. Tetapi beberapa peneliti juga masih mempertanyakan efektifitas keberhasilan penggunaan teknologi adult stem cell ini, sehingga proses dialektika saintifik tentang aplikasi ESC maupun adult stem cell juga masih memerlukan waktu yang panjang terutama apabila kita mengharapkan thesis untuk dijadikan titik temunya dan memecahkan masalahnya atau mungkin justru antithesisnya yang kita dapatkan.

 

Mengabaikan Pertanyaan yang Tak Terjawab.

Rupanya prospek baik dari teknologi ini membuat para peneliti kurang sabar menunggu hasil-hasil penelitian-penelitian di bidang ini. Beberapa peneliti telah menggunakan embrio-embrio manusia untuk membuat klon ESC, sehingga reaksi keras di masyarakat bermunculan di mana-mana. Mulai dari politisi, negarawan, rohaniawan, maupun para peneliti stem sel sendiri. Seperti yang telah dideklarasikan oleh beberapa peneliti dari Massachuset pada tanggal 12 Juli 2001 bahwa mereka telah memulai membuat kloning manusia untuk menghasilkan ESC. Aplikasi teknologi ESC meskipun banyak kendala-kendala teknisnya, tetapi menurut saya teknologi ini mempunyai prospek cukup baik. Di bidang kedokteran, beberapa peneliti berharap bahwa penemuan lebih lanjut akan benar-benar mewujudkan cita-cita mereka. Saya pun berharap dapat mewujudkan cita-cita ini apabila saya bisa mendapatkan grant lanjutan untuk melakukan penelitian di bidang ini secara lebih mendalam. ESC sangat bermanfaat untuk digunakan pada terapi-terapi penyakit-penyakit degeneratif permanen, seperti alzheimer, diabetes mellitus, kerusakan-kerusakan permanen dari sel atau jaringan pada organ-organ vital, akan sangat berarti buat manusia maupun kemanusiaan. Kelemahan-kelemahan teknologi ini memang menunjukkan adanya banyak pertanyaan saintifik yang tidak mudah dijawab oleh para ilmuwan, tetapi pertanyaan-pertanyaan tersebut seperti sengaja dilalui begitu saja oleh para ilmuwan. Sekali lagi di kala saya mencoba melupakan sebuah pertanyaan, ternyata saya akan ketemu dengan pertanyaan lain yang lebih mengusik hati maupun pikiran saya sebagai peneliti. Tanpa kita sadari perkembangan sain dan teknologi yang telah dilakukan oleh manusia sudah demikian cepatnya dan sudah sangat mempengaruhi segala sendi-sendi dan relung-relung kehidupan manusia itu secara simultan, sehingga sain dan teknologi sangat mempengaruhi perubahan-perubahan budaya manusia. Teknologi ESC merupakan suatu contoh kasus. Seperti yang saya ungkap sebelumnya bahwa sebenarnya manusia masih belum selesai memecahkan satu masalah, bagaimana membiakan embrio secara sempurna pasca blastosis? Pertanyaan ini belum terjawab dengan baik, tetapi manusia mencoba melangkah lebih lanjut dengan mencoba membiakkan embrio pasca blastosis dengan mengisolasi sel-sel tersebut, sehingga terjadi proses simplifikasi pembiakan. Simplifikasi sebenarnya beresiko tinggi, karena dia berusaha menghindari faktor-faktor kompleks yang seharusnya terjadi. Logika sederhana ini akan menghasilkan suatu premis bahwa simplifikasi akan mengandung risiko yang bersifat unpredictable future akibat diabaikan faktor-faktor komplek tadi. Pengembangan teknologi ESC secara teknis masih banyak mengandung resiko-resiko seperti dikemukakan sebelumnya.

 

Kesadaran Adanya Intelectual, Instintive dan Religious Space.

Persoalan-persoalan teknis metodologis tersebut seharusnya menyadarkan kita, apabila kita mencoba mengaplikasikan teknologi tersebut pada manusia. Aplikasi teknologi ini akan mengusik akan arti sebuah makna, saya termasuk orang yang yakin bahwa manusia memiliki sebuah kebutuhan akan jawaban atas pertanyaan tentang “makna” karena jawaban pertanyaan ini bersifat imaterial atau batiniah. Pertanyaan tentang makna hidup, tujuan hidup, apa yang terjadi sesudah kematian, merupakan contoh betapa manusia memerlukan jawaban yang tepat agar kehidupannya tidak kehilangan orientasi. Kondisi ini menunjukkan bahwa manusia bukan hanya mahluk yang mempunyai intelectual space tetapi juga religious space. Pada dasarnya pula manusia adalah mahluk yang selalu gelisah, sebuah fenomena kejiwaan yang tak dimiliki oleh mahluk lain. Kegelisahan menunjukkan bahwa setiap manusia merindukan akan kebahagian, religiusitas menjadi kerinduan, seni dan keindahan menjadi dambaan, cinta kasih menjadi perekat dan penguat kehidupan. Kegelisahanlah yang mendorong manusia untuk membuat hidup ini menjadi lebih punya orientasi, dan menyadarkan manusia, bahwa mereka memiliki harapan dan impian. Saya termasuk orang yang meyakini bahwa manusia di samping mempunyai intelectual space dan religious space, juga mempunyai instinctive space. Instinctive space merupakan sifat manusia sebagai mahluk biologis. Instinctive space pada dasarnya merupakan kekuatan untuk mempertahankan hidup dan melangsungkan kehidupan biologis kemaklukannya. Tetapi apabila manusia hanya mengandalkan kelebihan intelectual dan instinctive space maka manusia akan menjadi mahluk yang sangat diperbudak untuk menguasai dan mengembangkan teknologinya yang tanpa tahu makna akan hakekat tujuan hidupnya. Manusia benar-benar akan menjadi the survival is the fitest seperti teori yang dikemukakan oleh Darwin. Di dalam masalah teknologi ESC dalam aplikasinya mengandung dilema pemaknaan, di satu sisi ESC diharapkan dapat mempunyai nilai kemanusiaan terutama bila dilakukan secara hati-hati dan diaplikasikan untuk penyakit-penyakit yang selama ini sulit diobati. Di sisi lain percobaanpercobaan yang sudah dilakukan, ternyata menggunakan embrio manusia itu sendiri, yang bisa berarti melakukan perusakan pemaknaan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri.

 

Dari dilema ini para peneliti ESC yang mendukung penuh penelitian ini berhadapan dengan para rohaniawan dan beberapa peneliti yang tidak sepaham dengan aplikasi ESC ini. Ada dua titik ekstrem dalam memandang aplikasi teknologi ESC. Mereka yang menolak tanpa kompromi maupun beberapa peneliti yang mendukung total pengembangan teknologi ini. Meskipun mereka yang menolak terdapat beberapa pendapat, misalkan selama dilakukan rekayasa embrio itu pada binatang mereka masih menerimanya, tetapi kalau dilakukan pada manusia, mereka sama sekali menolaknya. Para peneliti ini mencoba mencari alternatif dengan menggunakan adult stem cell, artinya penggunaan adult stem cell yang berasal dari bagian tubuh manusia masih bisa ditolerir, tetapi kalau sampai terjadi perusakan embrio yang mereka yakini sebagai calon manusia mereka menolaknya. Tentu saja bila kita berdiri pada titik-titik ekstrem, maka pemecahan masalah tidak akan mungkin tercapai, tetapi berada di titik tengah pun bukan berarti dapat memudahkan pemecahan masalah apalagi menyangkut masalah krusial manusia, pada pemecahan masalah krusial titik tengah bisa menjadi suatu sifat ambigu yang belum tentu dapat memecahkan masalah tersebut.

 

Adanya kutub-kutub semacam ini justru dapat memunculkan proses transendensi manusia. Proses trasendensi manusia ini muncul melalui suatu proses penyadaran akan adanya keterbatasan untuk memahami fenomena fenomena alam, dan akan mengakibatkan memunculkan dimensi religiositas manusia. Kesadaran adanya banyak persoalan saintifik yang tidak dapat dipahami secara sempurna oleh manusia dan problem pemaknaan sebuah kehidupan manusia, menimbulkan sebuah keyakinan pada diri kita bahwa manusia untuk memahami fenomena alam memerlukan religious space di dalam dirinya.

 

Pemahaman akan sain dan makna kehidupan manusia dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu. Bahkan dimensi metafisika yang berusaha keluar dari demensi ruang dan waktupun merupakan dimensi tersendiri dari pemahaman manusia yang digambarkan oleh Fariduddin Attar dalam Ismail (1980) sebagai suatu usaha manusia untuk keluar dari peti besar yang tertutup di atasnya, namun manusia masuk dalam satu peti besar yang lain.

 

Bisa saja manusia berusaha menembus cakrawala dari dimensi ruang dan waktu berupa pemikiran-pemikiran filosofis ataupun metafisika, tetapi itu berarti manusia memasuki dimensi yang kebenarannya bersifat sangat spekulatif. Cara berpikir spekulatif manusia ini membuat kegelisahan manusia itu sendiri, kegelisahan tersebut memerlukan sebuah jawaban, tetapi jawabannya bagaikan seseorang melihat fatamorgana, jawaban yang tidak sebenarnya, sehingga manusia sadar atau tidak selalu menyisakan relung religi dalam dirinya. Relung religi ini yang saya sebut sebagai religiositas dari seseorang.

 

Religiositas ini yang menyebabkan manusia mempunyai rasa dipendensi, faktor dipendensi ini merupakan faktor tak terbantahkan yang menyadarkan manusia adalah sebatas mahluk juga, sama dengan mahluk ciptaan yang lain. Dia pasti sangat tergantung dengan hukum-hukum alam, dia akan mengalami proses alamiah seperti mahluk-mahluk lainnya, manusia tidak bisa melawan proses alam terhadap dirinya, meskipun dirinya merasa dapat melampaui batas cakrawala dimensi ruang dan waktu. Sebagai contoh fisikawan besar Stephen Hawking yang sangat yakin akan kemampuan manusia untuk dapat mengetahui segala sesuatu seperti teori yang diungkapkannya yaitu “Theory of Everything” (TOE) dia yakin bahwa manusia dapat menangkap pikiran Tuhan (Mahzar, dkk, 1998), yang berarti dia yakin kemampuan manusia untuk dapat melewati dimensi ruang dan waktu. Tetapi seperti kita ketahui semua bahwa dia sendiri tidak mampu mengatasi proses alamiah biasa akibat menderita amyotropic latheral

sclerosis. Artinya pada saat itu dirinya sebenarnya sangat dipendensi terhadap sebuah hukum alam biasa yang siapa saja bisa mengalaminya dan tidak berdaya untuk menolaknya. Manusia merupakan mahluk yang dipenden tetapi sekaligus mempunyai kemampuan untuk mengembangkan otonomi seluas-luasnya. Ia adalah makhluk di antara mahluk-mahluk lain, karena itu di dalam diri

manusia terdapat seluruh unsur kemahlukan yang ada, namun juga memiliki unsur yang terhubung dengan dimensi ilahiah, sebagai akibatnya manusia

merupakan mahluk yang mempunyai kreatifitas sangat menonjol.

 

Dependensinya harus terangkat ke dalam otonominya, dipendensinya bukan merupakan keterbatasan mutlak (fatalis) melainkan sebuah kebebasan untuk memilih dari otoritas otonominya. Puncak dari transendensi bukan merupakan kebebasan tanpa batas atau ketidak berdayaan total, melainkan kesadaran akan keterbatasan dari sebuah penemuan akan kebenaran illahiah. Sebagai mahluk yang mempunyai religious space, manusia tidak boleh terjebak dalam kesederhanan atau simplifikasi instinctive. Manusia bukan hanya mahluk yang hidupnya hanya cukup dipenuhi sekedar makan, minum, selamat dari mara bahaya dan hubungan seksual. Ada butir kehidupan yang tidak dikenal oleh mahluk lain, seperti kasih sayang, keterharuan, kerinduan, keluhuran budi, yang kesemuanya menunjukkan adanya space di atas insting manusia. Manusia berkewajiban mengangkat dimensi instinctivenya ke dimensi religi dengan menggunakan intellectual spacenya, maka manusia akan menemukan sebuah makna kehidupan.

 

Perlukah Bioetika ?

Etika memang tidak termasuk dalam domain ilmu dan teknologi yang bersifat otonom, tetapi dalam penerapan teknologi membutuhkan dimensi etis sebagai sebuah pertimbangan. Pertimbangan ini akan mempunyai implikasi lebih lanjut dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada dasarnya ilmu pengetahuan dan teknologi seharusnya berfungsi untuk mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan, bukan untuk menghancurkan nilainilai tersebut. Tanggung jawab etis bukanlah berkehendak mencampuri atau bahkan menghancurkan otoritas ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi bahkan dapat sebagai umpan balik bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri, yang sekaligus akan lebih memperkokoh eksistensi manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Bioetika sebenarnya adalah bagian integral dari etika yang saya ungkap sebelumnya, tetapi saya memang menginginkan akan sebuah penekanan etika terhadap masalah biologis. Hal ini disebabkan perkembangan ilmu biologi bersama-sama dengan bioteknologi berlalu sangat cepat terutama setelah tahun tujuh puluhan dengan ditemukannya teknologi rekombinasi DNA, kloning di tingkat DNA, aplikasi teknologi fertilisasi in vitro pada manusia, sehingga akhir tahun 90-an seperti teknologi kloning ESC perkembangan ilmu ini sangat signifikan. Perkembangan ini pada hakekatnya sangat positif sekali, tetapi sangat bisa secara langsung menghadapi masalah etis.

 

Sebagai ilmu pengetahuan, biologi adalah ilmu yang netral, bahkan ilmu ini justru akan memperkaya pemahaman manusia akan adanya sebuah proses penciptaan yang sangat cerdas. Pemahaman semacam ini seharusnya akan menyebabkan peningkatan proses penyadaran akan adanya sang Khalik Sang Maha Adil itu, sehingga akan menyebabkan manusia merasakan adanya sebuah makna kehidupan. Tetapi dalam kehidupan ini selalu saja ada kesenjangan antara apa yang sedang terjadi dan apa yang seharusnya terjadi. Kejadian pembuatan klon ESC pada manusia, begitu pula terhadap kelompok clonaids yang berusaha matimatian membela dan memproduksi kloning manusia. Hal ini menyadarkan kita akan perlunya ada suatu etika di bidang biologi yaitu bioetika.

 

Bioetika tidak untuk mencegah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi menyadarkan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai batas-batas dan tanggung jawab terhadap manusia dan kemanusiaan. Banyak ilmuan yang secara ambisius akan mengembangkan teknologi biologi tingkat tinggi namun tanpa memperhitungkan sebuah perkembangan sosial dan kultural masyarakat. Banyak ilmuwan sering mengabaikan baik dan buruk yang menjadi tata nilai masyarakat, karena mereka merasa bahwa ilmu pengetahuan tidak berada di domain tersebut. Sehingga katagorisasi normatif sangat sulit untuk didiskusikan oleh para ilmuwan, seolah-olah baik dan buruk bukan urusan mereka, mereka hanya menganggap itu urusan para kyai dan pendeta.

 

Di sisi lain, tidak bisa di pungkiri bahwa para Kyai dan pendeta selalu terlambat mengantisipasi perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi, karena mungkin mereka merasa berada di domain yang berbeda dengan para ilmuwan, mereka mencoba mendakwahkan misi ajaran-ajaran dari Tuhan yang mereka yakini pada masyarakat awam, tanpa disadari bahwa para ilmuwan bergerak jauh lebih cepat dibanding para pendeta dan kyai tersebut mempengaruhi masyarakat awam, terutama untuk membentuk suatu tatanan budaya tekno-sosial yang biasanya malah mengorbankan mereka. Sebagai contoh sederhana, bahwa masyarakat awam sangat aprisiatif sekali dengan perkembangan Iptek; hal ini dapat dilihat kursuskursus komputer yang merupakan pruduk teknologi canggih (hitech) telah berkembang sampai ke desa-desa, mereka mau mengorbankan sejumlah uangnya untuk mengikuti kursus-kursus semacam ini dengan sangat serius.

 

Di sisi lain, para kiyai dengan berapi-api khotbah di hadapan jamaah, tetapi ternyata sebagian besar jamaah terkantuk-kantuk mendengarkannya. Realitas ini menunjukkan bahwa tidak bisa di pungkiri kekuatan ilmu dan teknologi benar-benar telah memasuki ke relung kehidupan yang sangat hakiki dalam mempengaruhi tekno-sosial masyarakat, melebihi kemampuan para rohaniawan mempengaruhinya. Seharusnya para ilmuwan tanpa harus menunggu rohaniawan untuk menyadari akan perlunya bioetika, dari proses memahami fenomena alam yang setiap hari kita alami sudah seharusnya semakin menyadarkan kita akan keperluan itu. Pada hakekatnya seorang ilmuwan adalah seorang pemimpin umat manusia yang mempunyai kekuasaan luar biasa; dia bisa menghancurkan umat manusia, dia bisa membahagiakan umat manusia, tergantung kejujuran hatinya. Para ilmuwan memang bukan pemimpin struktural tetapi pemimpin kultural, hasil dan karyanya akan mempengaruhi budaya manusia. Saya termasuk orang yang sangat yakin bahwa ilmu itu selalu netral, dia tidak berpihak pada subyektifitas manusia, tetapi dia selalu berpihak pada hukum alam. Hukum alam ini dalam bahasa yang lebih religius sering disebut “Sunatullah”. Kebenaran Sunatullah merupakan kebenaran yang tidak berpihak kepada keimanan seseorang, tetapi manusialah yang seharusnya mengimaninya, bahwa Sunatullah adalah ayat ayat yang ditulis dan didesain oleh Sang Maha Pencipta dan Sang Maha Agung, Sang Maha Pencipta yang keberadaan-Nya tidak tergantung presepsi manusia, meskipun sering dipresepsikan oleh manusia. Dia tidak tergantung “Teori of Everything”-nya si Stephen Hawking, Dia juga tidak tergantung “Teori Relativitas”-nya si Einstein, tetapi justru segala sesuatunya tergantung kepadaNya, kesadaran semacam ini akan menghasilkan tatanilai yang dianut oleh para ilmuwan, tata-nilai yang akan mengilhami perilaku ilmuwan sebagai wujud tanggung jawab kemanusiaannya. Produk-produk teknologi hasil temuan mereka seharusnya sarat dengan tanggung jawab kemanusiaannya dan berorientasi pada pengabdian kepadaNya.

 

Daftar Pustaka

Cavazzana-calvo, M. 2000. Gene Therapy of human of Human severe Combined

immunodeficiency (SCID)-X1 Disease. Science: 288,669-672.

 

Damjanov, I., A.Damjanov, dan D. Solter. 1987. Production Of Teratocarcinomas From Embryos Transplanted to Extra-Uterine Sites. Teratocarcinomas and Embryonic Stem Cells. Appractical approach. Di edtit oleh E.J. Robertson. IRL Press. Eynham,Oxford.England. hal 1-17.

 

Djati, M.S. 1998. Pengaruh Suplementasi PMSG dan hCG pada Proses Fertilisasi In Vitro dan Kultur Klon Embrio Sapi dengan IGF-1. Disertasi.

 

Djati, M.S.,G.Ciptadi, F.Fattah. 2002. Short term Viability of goat embryonic Stem cells on vesiculart rophoblastic feeder cells in vitro. Presented on “ 12th Federation of Asian Veterinary Associations Conggress and 14th Veterinary Association Malaysia Congress 2002. Subang. Kuala Lumpur.

 

Gearhart, J. 1998. New Potential for Human Embryonic Stem Cell. Science. 282:

1061.

 

Hartl,D.L., dan E.W. Jones. 1998. Genetics Principles and Znalysis. Boston: Jones and Bartlett Publishers.

 

Ismail, Taufiq. 1980. Taufiq Ismail Membaca Puisi. Taman Ismail Marzuki. 30-31

Januari 1980. hal 23. Kaurany, J.A. 1987. Scientific Knoweledge, Basic Issues in The Philosopy of Science. Belmont, California: Wadsworth Publishing Company

Klug, W.S., dan M.R. Cummings. 2000. Concepts of Genetics. New Jersey: Prentice Hall.

 

Mahzar, A., Suseno, F.M., Leksono, K.,Liang, O.B., Saswojo,S. Liong, T.H., Saidi, Z. 1998. Melaju menuju Kurun Baru: Respons Cendikiawan Indonesia Atas

kuliah “Melenium Evening” Stephen Hawking. Bandung: Mizan

 

Paul,J.1975. Cell and Tissue Culture. London: Churchill Livingstone Quintanilla,M., Brown, K., Ramsden,M., Balmain, A. 1986. Carcinogen specific mutation and amplification of Ha-ras during mouse skin carcinogenesis. Nature 322:78-79.

 

Rideout W., dan Hochedlinger, K.2002. Combine therapeutic Cloning, Embryonic Stem Cells, and gene to Correct a Genetic defect in Mice. Proceeding of national Academy of Sciences. 98: 16726-30.

 

Young , M.2002. Neural stem cells cam repopulate damaged retina. Eye Research Institue and Havard Medical School.The Scientist, 16 (12):1.

 

Zubair, A.C. 2002. Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia kajian filsafat ilmu. Yogyakarta: Lembaga Studi Filsafat Islam (LESFI)

 

sumber

Jurnal Universitas Paramadina, Vol. 3 No. 1, September 2003: 102-123

http://www.paramadina.ac.id/index2.htm

2 thoughts on “DISKURSUS TEKNOLOGI EMBRYONIC STEM CELLS DAN KLONING DARI DIMENSI BIOETIKA DAN RELEGIOSITAS (Kajian Filosofis dari Pengalaman Empirik)

  1. terima kasih pa, materi yang luar biasa….
    mohon ijin nya untuk saya gunakan juga sebagai tambahan refernsi makalah yang sedang saya buat
    salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s