MARTIN HEIDEGGER: SIAPA TUH?

 

MARTIN HEIDEGGER: SIAPA TUH?

 

Moh. Afiffuddin

Simulasi Pendakian Fenomenologi[1]

Preambule

 

Dalam era modern seperti ini, penggunaan nalar yang irasional dianggap sebuah ilusi dari kondisi masyarakat para-modern (tradisional). Segala kejadian selalu dimaknai dalam bingkai yang rasional dan ilmiah. Dari situ posisi filasafat maupun ilmu-ilmu lainnya seperti humaniora (non-eksakta), maupun ilmu eksakta itu sendiri harus sesuai dengan koridor keilmiahan dan rasionalitas logika masyarakat modern itu. Benar-benar tidak ada toleransi bagi pemikiran yang berbau tahayul atau mistis unuk masuk dalam gerbang perdebatan sains kontemporer. 

Tapi benarkah se-simple itu pemahaman yang zaman sekarang? Bagi saya akhirnya muncul perdebatan yang menarik dari pembedaan orientasi berfikir tersebut. Pertama, benarkah bisa setajam itu pembagian garis berfikir dari seseorang? Kedua, apakah tidak menutup kemungkinan munculnya ragam pemikiran yang keluar dari skema tersebut lantas mencoba menggabungkan (hybridasi) dua kecenderungan yang berbeda di atas menjadi sesuatu yang baru, unik, atau bahkan otentik. 

 

Bagi saya pembahasan itu harus lebih dahulu melewati sekian penjelasan yang berkaitan dengan asal usul dan sejarah (genealogis) lahirnya sebuah pemikiran. Karena satu rumus (aksioma) dalam sosiology of knowledge (aspek sosiologis untuk melacak lahirnya suatu pengetahuan) mengatakan bahwa tidak ada satu pemikiran pun yang lahir dari ruang sosial yang hampa. Artinya latar (setting) ekonomi, politik, sosial, budaya, maupun agama turut menentukan corak peikiran yang hadir dan eksis di zaman itu.  Dalam konteks ini, saya menilai relevan sekali bila mengkaitkan kondisi ekonomi maupun budaya kontemporer dengan ragam pemikiran yang muncul. Kondisi budaya maupun ekonomi itu bisa kita simak dalam gejala gobalisasi/globalisme di negara-negara dunia ketiga.

Kenapa? Sebab dari rahim globalisasi ini lahir beragam konsekuensi yang dapat mewarnai wajah peradaban negara-negara seluruh dunia (khususnya negara-negara dunia ketiga/negara berkembang). Termasuk penjajahan ekonomi, -dan yang terpenting- “penjajahan”, atau pengaruh dalam ruang pemikiran (sains). Seperti teori ilmu sosial, kebudayaan dan filsafat. 

Puing Pertama 

Aku mulai tulisan ini dengan kecemasan[2]. Mungkin asumsi ini berdasar pada banyaknya dari kita yang merasa bahwa kecemasan itu merupakan hal yang sehari-hari menghampiri kita. Sebuah contoh konkret adalah “kecemasan” kita saat menghadapi masalah yang dianggap berkaitan dengan “eksistensi” kita sebagai manusia, sekaligus zoon politicon. Walaupun sebenarnya kadang kala eksistensi akan berbenturan dan cenderung tumpang tindih dengan “esensi”[3].

Tapi seketika semua berubah saat Martin Heidegger dalam master peace nya yang berjudul sein and zeit (ada dan waktu) yang garis besar pemikiranya dicantumkan oleh F. Budi Hardiman yang mencoba membuat sebuah buku pengantar versi yang lebih mudah (bahasa Indonesia) yang kemudia ia beri judul Heidegger dan mistik keseharian (Gramedia: 2004) mengatakan bahwa sesungguhnya tekanan/ perasaan psikologis yang selama ini  kita identikkan dengan “kecemasan” itu bukanlah wujud sesungguhnya dari kecemasan itu sendiri. Karena menurutnya perasaan tersebut tidak lebih dari sebuah ketakutan!!![4] 

Entahlah. definisi apa yang cocok untuk mengurai apa yang dinamakan ketakutan tersebut. Namun yang jelas saat kita mengalami kecenderungan di atas, sebenarnya kita hanya takut. Tidak lebih. 

Heidegger melanjutkan bahwasnya kecemasan itu tidak sesederhana yang kita kira. Kecemasan itu erat kaitanya dengan pengakhiran (upaya mengakhiri) esistensi kita sebagai ADA yang meng-ADA di dunia[5]. Dalam istilahnya disebutkan ada (dalam bahasa Jerman ala Heideggeriana disebut juga dengan dasein) tersebut tak lain adalah diri kita yang mengada atau menyembul/ menampakkan entah dengan cara apa dan bagaimana itu terjadi dari sisi historis yang definitif dengan lebih dahulu menafikan peran serta wahyu yang mungkin akan mendapat porsi selanjutnya.  Satu lagi yang menarik ádalah pernyataan dari Heideger bahwa dasein mengADA hanya karena dia mengalami keterlemparan. atau dengan kata lain kita tidak punya opsi untuk bisa bersuara selain kita begitu saja terlempar dalam kehidupan. 

Puing Kedua

Globalisasi telah merubah pola-pola tindakan atau kebudayaan masyarakat modern menjadi lebih pragmatis. Rasionalitas manusia hanya terbatas pada rasionalitas-rasionalitas instrumental, sehingga secara tidak sadar manusia modern hanya melahirkan rutinitas-rutinitas keseharian yang sesungguhnya banal (dangkal). Hidup mereka seolah dikendalikan oleh tangan-tangan yang tidak kelihatan (invisible hand) -meminjam istilah dari Adam Smith- sehingga muncullah semboyan-semboyan seperti time is money atau jargon lain yang pragmatism oriented. Padahal kesemuanya itu hanya sebuah absurditas-absurditas dunia yang tak tercerna oleh manusia. 

Maka tak salah jika filsuf eksistensialis yang terkenal nyentrik Frederich Nietzsche pernah berkata “Kemanakan Allah? Apakah kita telah membunuhnya – kalian dan aku – kita semua pembunuh“. Bahkan Nietzsche melanjutkan dengan pernyataan bahwa kebebasan dan tendensi materialistis yang membesar telah menandaskan nilai-nilai sehingga Allah (Tuhan) sebagai sumber moral tertinggi tidak lagi berfungsi. Sebab runtuhnya sistem kepastian religius menyebabkan merebaknya massa nomad yang kehilangan akar moral dan mengalami disorientasi.  

Berbeda dengan Nietzsche yang memberikan solusi bagi keadaan hampa atau disorientasi tersebut dengan tidak membiarkan disorientasi berlarut dan menumbuhkan sikap aktif menciptakan nilai-nilai sendiri dalam kebebasan. Martin Heidegger dengan tegas mengatakan bahwa sesuatu yang mistis belumlah hilang dalam peradaban seperti itu. Karena sesungguhnya manusia memiliki dua sisi yang berbeda, yaitu suatu saat larut dalam keseharian dan terasing dari adanya. Namun, di sisi lain manusia adalah makhluk penanya adanya. Pada moment itulah kecemasan (angst) akan menyembulkan dirinya. 

Namun kecemasan di sini bukanlah kecemasan yang selama ini kita deskripsikan, karena kecemasan yang dimaksud Heidegger tidak lagi bersifat keseharian, melainkan menukik ke dalam ada (da sein) itu sendiri. Sedangkan ‘kecemasan’ dalam kehidupan kita sehari-hari tidak lebih dari sebuah rasa takut (furcht). Rasa takut mempunyai objek yang jelas yaitu suatu entitas yang menakutkan. Sedangkan pada hakikatnya kecemasan yang sesungguhnya tidak pernah punya objek yang tentu. “Objek kecemasan yang sesungguhnya tidak pernah di dalam dunia itu sendiri,” begitu kata Heidegger. 

Heidegger juga berbicara apa itu realitas. Bertolak dari pemikiran Rene Descartes yang menjadi acuan dan segala refleksi zaman modern, yakni Descartes seolah menghimpun semua refleksi pada problem kesadaran pada subjek atau cogito dan menjadikan rasio sebagai pusat realitas. Tapi Heidegger ingin melewati itu semua dengan memperlihatkan bahwa kesadaran dan subjek hanyalah salah satu cara realitas menyingkapkan dirinya. Kesadaran bukanlah segalanya, bahkan kesadaran merupakan suatu kelupaan akan realitas. 

Heidegger tidak ingin terjebak pada salah satu aspek realitas, melainkan mengangkat totalitas realitas sebagai bahan refleksinya. Realitas sebagai sebuah keseluruhan dalam filsafat disebut dengan ada (da sein). 

Pemikiran ontologis Heidegger tentang Ada (da sein) dan juga kecemasan (angst) memang bukan barang baru dalam dunia filsafat. Namun yang menjadi unik adalah Heidegger mampu menautkan Ada dengan waktu, sekaligus mampu  menyelam jauh dalam keseharian yang untuk meraih kedalaman makna Ada. Oleh karena itu pemikiran yang tarangkum dalam buku sein dan zeit  itu melejitkan nama filsuf kelahiran Messkirch, Jerman 26 September itu. Selain berhasil menjadi Masterpiece Heidegger, buku tersebut sekaligus menjadikannya sebagai filsuf terkemuka abad 20.

 

 

[1] Teks ini dirilis dengan tujuan sebagai pengantar paling dasar dan sederhana tentang pemikiran Martin Heidegger. Selanjutnya bahasan yang tidak komplit ini harus dilengkapi dengan pendalaman literatur yang intens, terutama tentang fenomenologi

[2] Kecemasan disini tidak jauh beda dengan apa yang selama ini kita definisikan, sehingga tidak perlu ada penjelasan lebih dalam lagi mengenai istilah itu. Selain karena akan terasa verbal pendeskripsian akan cenderung membuat tidak menarik.

[3] Ada banyak perdebatan, dan paradigma (tentunya) tentang makna eksistensi dan esensi. Dalam pandangan Albert Camus, hidup dicontohkan sebagai eksistensi, bukan esensi dalam “proses” meng-ADA kita. Lantas esensinya seperti apa? Mungkin bisa jadi kesadaran. Seperti sebuah anekdot cerdas dan filosofis tentang mite sisifus (mitos si sisifus) dalam mitologi klasik Yunani yang begitu bodoh dan lugunya bila dipandang secara awam. Tapi begitu rumit bila dijiwai secara filosofis. Dikisahkan Sisifus adalah orang yang kerjanya adalah mendorong bongkahan batu besar ke atas bukit. Sesampainya di atas, batu itu kemudian dilepasnya begitu saja. Sejenak ia terhenyak, sampai menyadari bahwa ia melakukan kesia-siaan. Berikutnya tanpa kenal lelah ia kembali lakukan hal sama dalam jangka waktu terus-menerus. Idiot memang (secara dekaden). Tapi bukankah seperti itu pendakian filsafat? Ketika seorang manusia ingin mencari sumber kebenarannya; ingat rumus dialektika dan segenap pertentangan paradigma.Sedangkan dalam kaca mata Jean Paul Sarte, eksistensi harus dipahami semacam bandul atau pendulum yang selalu bergerak tanpa aturan (chaos) demi tercapainya keteraturan itu sendiri. Dengan kata lain chaos adalah “keteraturan”, dan keteraturan (dalam arti sebenarnya) adalah kekerdilan. Dengan itu Sarte menjadi tonggak epitemologis pemikiran filsafat Prancis yang  di kemudian hari dikenal khalayak sebagai avant garde gerakan posmodernisme, dengan sederet pemikir ampuhnya macam Roland Barthes, Jaques Lacan, Jaques Derrida, Michael Foulcault, Jean Baudrillard, atau Piere Bourdieou. Sekaligus menciptakan semacam demarkasi halus yang menjelma menjadi mainstream wacana tersendiri yang membedakannya dengan tradisi filsafat Jerman.Dua contoh tersebut paling tidak menjadi contoh minimal tentang apa itu esensi dan eksistensi (yang kebetulan dua contoh di atas berasal dari rahim Prancis). Hal itu juga menjadi estafet perdebatan tentang makna “bentuk” dan “isi” yang sudah berjalan sejak masa Aristoteles dan Plato (era klasik).

[4] Heidegger adalah filsuf Jerman penganut aliran fenomenologis ala Edmund Husserl yang kontroversial namun  namanya dapat melambung berkat pemikiranya tentang konsepsi waktu dan arti eksistensi, atau yang distilahkanya dengan ADA, di mana konsep keduanya disatukan dalam judul sein and zeit (ada dan waktu), sehingga oleh para filsuf kontemporer, karya itu disejajarkan dengan ROHnya Hegel dan Res Republican—nya Plato. Bahkan konon Heidegger disebut sebagai filsuf penutup abad 20…..berdasarkan asumsi bahwa dari pemikiran-pemikirannya tersebut ternyata mampu menjadi inspirasi bagi filsuf-filsuf selanjutnya seperti Derrida atau Foulcault……..Heidegger pernah dianggap sebagai pewaris (dan penyempurna) ajaran nihilisme Nietzsche. Tapi Heidegger ádalah seorang fenomenolog  yang lebih tangguh dari Husserl. Dan konsep fenomenologi inilah yang mampu menjangkiti nalar kiritis para filsuf setelahnya…….Secara sederhana fenomenolgi ádalah usaha untuk “belajar seolah-olah menjadi pemula” Tentu  bukan pemula dalam hal segala-galanya (kalau untuk ini kita harus benar-benar menjadi bayi), tapi hanya seolah-olah. Sehingga dari situ kita akan belajar menyingkap sesuatu hal seperti kita baru mengenalnya (bebas dari konstruksi), sehingga kita akan kritis dan skeptis….(tapi pemaknaan tersebut hanya penjelasan paling awam dari fenomenologi… untuk selanjutnya saya kira akan lebih detail dan sangat mendalam dan tentunya rumit)……………Namun kontroversial karena sempat dicurigai sebagai simpatisan NAZI. Hal itu diketahui dari statementnya tentang bangsa Arya Jerman. Satu hal lagi yang menghebohkan dari Heidegger ádalah kasus perselingkuhannya dengan muridnya Hannah Arendt, yang di kemudian hari dikenal sebagai filsuf politik dengan salah satu karyanya ‘Human Condition’ yang bertutur seputar perlunya keterlibatan moral dalam politik dan politik yang tidak bisa dipisahkan dengan moralitas secara holistik dan integral.

[5] Lha kalau makna Kecemasan yang ini jelas berbeda dengan yang di atas (footnote point 2). Sebab term Cemas dalam konteks ini adalah salah satu kata kunci untuk memahami Heidegger. Seperti halnya kita mengenal istilah “Arkeologi/Kegilaan” dari Foucault. Term “Alienasi” dari Marx, “Roh” dari Hegel, “komunikatif” bagi Habermas, dan sebagainya.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s