filsafat; pandangan umum

 

FILSAFAT: Pandangan Umum (untuk Beberapa Bahan Filsafat Manusia F.Psi Unika Atmajaya Jakarta)

 

PENGANTAR MASUK

 

Filsafat mempunyai sejarah yang amat panjang. Filsafat lebih tua dari semua ilmu pengetahuan dan beberapa agama monotheisme yang berkembang sampai sekarang.

 

Bertrand Russel pernah berkata: “Antara teologi dan ilmu pengetahuan terletak suatu daerah tak bertuan. Daerah ini diserang baik oleh teologi maupun ilmu pengetahuan. Daerah tak bertuan ini adalah filsafat !” Kata Kierkegaard,”Hidup manusia baru dimengerti dari belakang, tetapi harus dijalani dari depan”.

 

Suatu pengantar filsafat tidak akan menjawab semua pertanyaan mengenai filsafat. Tapi yang jelas pengantar filsafat merupakan usaha memperkenalkan filsafat sebagai bagian dari usaha manusia yang lebih besar, yaitu usaha untuk memahami dunia.

 

Semoga pengantar ini bermanfaat sebagai langkah pertama bagi mereka yang ingin mengetahui dan memahami filsafat. Termasuk bagi semua yang tertarik kepada filsafat sebagai wahana diskusi untuk pertanyaan-pertanyaan dari semua jaman.

 

“Aku datang – entah dari mana,

 

aku ini – entah siapa,

 

aku pergi – entah ke mana,

 

aku akan mati – entah kapan,

 

aku heran bahwa aku bergembira…….”

 

<!–[if !supportEmptyParas]–>

 

BAB I

 

ANEKA RAGAM FILSAFAT

 

(Jelajah Singkat Tentang Cabang-Cabang Filsafat)

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

PENGANTAR

 

Filsafat telah menjadi pergulatan intelektual manusia sampai sekarang. Dengan demikian, filsafat sebagai salah satu bentuk pengetahuan dapat dibedakan dengan bidang-bidang lainnya, seperti: agama, kesenian, teologi dan ilmu pengetahuan dalam arti yang ketat.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

DUDUK PERMASALAHAN FILOSOFIS

 

Kata filsafat adalah kumpulan 2 kata Yunani, yaitu philein yang artinya mencintai dan sophia yang artinya kebijaksanaan. Pada mulanya istilah filsafat mencakup setiap usaha penyelidikan yang membutuhkan tingkat rasionalitas tertentu. Bangsa Yunani melihat kebijaksanaan itu sebagai usaha rasional menjelaskan gejala alam<!–[if !supportFootnotes]–>[i]<!–[endif]–>.

 

Manusia menangkap gejala alam melalui panca inderanya. Setelah mengolahnya melalui inderanya, manusia mencoba mengenali gejala tersebut secara intelektual. Pengenalan intelektual manusia mencakup 2 bentuk pokok, yaitu bentuk rasional yang bekerja melalui konsep dan bentuk simbolik yang berujud pengenalan gambar atau simbol. Sifat pengenalan intelektual rasional lebih spekulatif dan abstrak. Sementara sifat pengenalan simbolik lebih figuratif dan konkret<!–[if !supportFootnotes]–>[ii]<!–[endif]–>.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

TITIK TOLAK FILSAFAT

 

Ada keyakinan mendasar bahwa filsafat bertitik tolak pada pengalaman. Manusia yang berfilsafat berada dalam satu konteks pengalaman tertentu.

 

Untuk memberi makna kehidupan dalam filsafat, diandaikan bahwa manusia memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang apa yang akan menjadi bahan refleksinya. Filsafat selalu memulai dengan bentuk pengetahuan tertentu, dari suatu bidang pengalaman tertentu.

 

Dari sejarah filsafat sendiri, filsuf selalu mulai dengan apa yang dianggap sebagai pengetahuan, sistem ide, keyakinan dan hidup dalam tradisi masyarakat waktu itu.

 

Berbagai bentuk pengetahuan dan bidang pengalaman yang tersedia bagi refleksi filsafat, perlu dipilih, diseleksi dan dianalisa. Setelahnya, filsafat mengatur dan menginterpretasikan ide-ide, keyakinan serta nilai sehingga terbentuk suatu sistem pemikiran yang mampu memberi arah pada kehidupan manusia.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

REFLEKSI FILSAFAT

 

Apa masalah mendasar filsafat ? Apa itu filsafat ? Filsafat adalah pengetahuan, salah satu bentuk pengetahuan yang berusaha sampai pada informasi, penjelasan yang valid, persis dan teratur. Bidang penyelidikan filsafat adalah semua realitas.

 

Aristoteles adalah filsuf pertama yang menerapkan penyelidikan radikal dan sistematika alam. Filsafat mempelajari sebab-sebab utama dari semua hal yang ada. Cicero menyatakan filsafat adalah studi mengenai akar-akar hal manusiawi dan hal-hal yang illahi. Descartes menegaskan bahwa filsafat mengajari orang untuk bernalar secara jernih dan tepat. Hegel memahami filsafat sebagai pengetahuan absolut. Dari sekian pendapat itu, hal tersebut memperlihatkan bahwa filsafat merefleksikan segala sesuatu. Ada dua alasan yang melatarbelakangi hal tersebut:

 

Pertama, realitas di sekitar kita selain bisa dipelajari secara ilmiah juga bisa dikaji pada taraf filosofis. Penyelidikan ilmiah menyentuh sisi kulit sebuah realitas, tapi pendekatan filosofis mencoba memahami akar masalah dalam sebuah realitas tertentu.

 

Kedua, sementara ilmu-ilmu hanya mempelajari satu dimensi realitas, filsafat mempunyai objek keseluruhan (universum realitas). Filsafat mempelajari realitas seluruhnya artinya berusaha memperoleh pemahaman lengkap dan tuntas mengenai tiap sektor dari realitas. Jadi filsafat sibuk untuk mengetahui, memahami, mengerti. Ilmu berusaha untuk menganalisa dan mengkalkulasi.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

KODRAT FILSAFAT

 

Ada tiga ciri khas kualitas pengetahuan filsafat atau menunjuk bahwa suatu pengetahuan itu khas filosofis.

 

Satu, alat analisis filsafat adalah akal budi. Analisa filosofis dilakukan dengan penalaran murni. Fantasi dan kesan panca indera berguna dalam tahap awal mendapatkan pengenalan dunia real. Akal budi menerobosnya dan menjadi analisa rasional. Karya penyelidikan filsafat yang benar dilaksanakan dan diseleksi oleh akal budi. Akal budi menghindarkan tujuan praktis, kekacauan naluri tapi langsung berkecimpung dengan objek.

 

Dua, hakikat metode filsafat adalah rasional. Metode rasionalitas dalam filsafat bersifat multipleks, yaitu bermetode induktif atau deduktif.

 

Tiga, tujuan filsafat bukan bersifat praktis. Filsafat mencari kebenaran dan pengetahuan. Filsafat mempunyai tujuan teoritis secara murni atau kontemplatif. Filsafat itu bebas dalam arti tidak mau dijajah oleh pragmatisme dan ideologisme lainnya.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

TAHAPAN DINAMIKA FILSAFAT

 

Proses pemikiran filosofis mengenal dua tahap yang saling berinteraksi. Kedua tahap tersebut terjadi bersamaan tapi dalam praktek dapat ditekankan yang satu atau yang lainnya.

 

Tahap analitis adalah tahapan filosofis untuk memperjelas atau mengkritisi metode dasar, aturan main, norma dari berbagai bidang teoritis, termasuk dalam ilmu pengetahuan. Filsafat analitis berkecimpung dengan kritik, penjelasan atau klarifikasi masalah dan definisi.

 

Tahap sintetis adalah tahapan filosofis yang menyatukan semua fase, tahap pengalaman manusia dalam suatu perspektif yang menyeluruh dan berarti. Dengan demikian, filsafat sintetis bermaksud merumuskan suatu pemahaman yang menyeluruh tentang kenyataan serta fase-fase pengalaman manusia.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

MASALAH-MASALAH DASAR FILSAFAT

 

Dalam praksis filsafat, ada beberapa tema pokok dalam kehidupan yang dijadikan objek penyelidikan filsafat secara preferensial, yaitu: Logika, Epistemologi, Metafisika, Etika, Estetika.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

LOGIKA: NALAR YANG TEPAT DAN LURUS

 

Istilah logika digunakan pertama kali oleh Zeno. Logika dapat berarti suatu pertimbangan akal atau pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Tapi biasanya logika dilihat sebagai sebuah studi tentang struktur atau susunan pembahasan rasional. Logika merupakan cabang filsafat yang mempelajari, menyelidiki proses atau cara berpikir yang benar, yang sehat dan patokan mana yang mesti dipatuhi agar pernyataan yang diambil adalah sah.

 

Dalam logika ada empat hukum dasar logika. Empat hukum dasar logika itu disebut juga postulat-postulat universal semua penalaran<!–[if !supportFootnotes]–>[iii]<!–[endif]–>. Keempat hukum dasar logika adalah: hukum identitas, hukum kontradiksi, hukum tiada jalan tengah dan hukum cukup alasan. Hukum identitas menyebutkan bahwa sesuatu adalah sama dengan dirinya sendiri. Hukum kontradiksi adalah hukum yang menyatakan bahwa sesuatu pada waktu yang sama tidak dapat sekaligus memiliki sifat tertentu dan juga tidak memiliki sifat tertentu itu. Hukum tiada jalan tengah menyatakan bahwa sesuatu itu pasti memiliki suatu sifat tertentu atau tidak memiliki sifat tertentu itu dan tidak ada kemungkinan ketiga. Hukum cukup alasan menjelaskan bahwa jika terjadi perubahan pada sesuatu, perubahan itu harus berdasarkan alasan yang cukup memadai dan cukup dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.

 

EPISTEMOLOGI: DASAR-DASAR SEBUAH PENGETAHUAN

 

Epistemologi adalah cabang filsafat yang bersangkut paut dengan teori pengetahuan. Epistemologi adalah ilmu yang mempelajari berbagai bentuk pengenalan dasar pengetahuan, hakikat dan nilainya. Secara tradisional, yang menjadi pokok permasalahan dalam epistemologi adalah sumber, asal mula dan sifat dasar pengetahuan: bidang, batas dan jangkauan pengetahuan.

 

Pengetahuan adalah suatu kata yang digunakan untuk menunjuk kepada apa yang diketahui oleh seseorang tentang sesuatu. Pengetahuan selalu mempunyai subjek: yang mengetahui. Tanpa ada yang mengetahui maka tidak mungkin ada pengetahuan. Pengetahuan juga mengandaikan objek. Tanpa objek atau hal yang diketahui juga harus dikatakan tidak mungkin ada pengetahuan. Pengetahuan berelasi dengan masalah kebenaran. Kebenaran adalah kesesuaian pengetahuan dengan objek pengetahuan. Masalahnya adalah kebenaran suatu objek pengetahuan tidak bisa serentak diperoleh dalam suatu waktu pengetahuan tertentu. Jarang sekali sebuah objek pengetahuan menampilkan kebenaran mutlak. Kebenaran dicari dalam tahapan pengetahuan yang disusun secara metodis, sistematis dan rasional. Ada tiga jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan biasa atau pengetahuan pra ilmiah, pengetahuan ilmiah dan pengetahuan filosofis<!–[if !supportFootnotes]–>[iv]<!–[endif]–>.

 

Sebuah pengetahuan pasti mempunyai sumber. Apakah sebenarnya yang menjadi sumber pengetahuan ? Beberapa filsuf menyebutkan bahwa sumber pengetahuan adalah akal budi atau rasio. Akal budi memiliki fungsi penting dalam proses pengetahuan. Beberapa filsuf lainnya berpendapat bahwa sumber pengetahuan adalah pengalaman inderawi. Pengetahuan pada dasarnya bersandar dan bergantung pada panca indera serta pada pengalaman empirik inderawi. Pertentangan kutub ide rasionalitas dan empirisme ini didamaikan oleh Immanuel Kant yang menyatakan bahwa kendati seluruh ide dan konsep bersifat apriori, ide dan konsep tersebut hanya dapat diaplikasikan apabila ada pengalaman. Tanpa pengalaman, seluruh ide dan konsep tidak pernah dapat diaplikasikan.

 

Permasalahan lain dalam epistemologi adalah kepastian dan kebenaran sebuah pengetahuan. Kriteria apa yang dipakai untuk mengukur sebuah pengetahuan bisa disebut benar dan pasti ? Bagaimana sebuah pengetahuan bisa dikatakan sebagai pengetahuan yang sahih ? Dalam epistemologi ada beberapa teori kesahihan pengetahuan, yaitu teori koherensi, teori korespondensi, teori pragmatis, teori semantik dan teori logikal yang berlebihan<!–[if !supportFootnotes]–>[v]<!–[endif]–>.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

METAFISIKA: ANTARA ESENSI DAN EKSISTENSI

 

Metafisika adalah satu cabang filsafat yang mempelajari dan memahami mengenai penyebab adanya segala sesuatu sehingga hal tertentu menjadi ada. Metafisika bisa berarti upaya untuk mengkarakterisasi eksistensi atau realitas sebagai suatu keseluruhan. Istilah ini juga berarti sebagai usaha untuk menyelidiki alam yang berada di luar pengalaman atau menyelidiki apakah hakikat yang berada di balik realitas. Studi ini amat kompleks dan cenderung melampaui rasionalitas atau melampaui jangkauan akal budi.

 

Persoalan pertama yang harus dijawab metafisika adalah apakah realitas atau ada yang begitu beraneka ragam ? Mana yang lebih benar atas sebuah realitas atau bermacam-macam realitas ? Apakah eksistensi yang sesungguhnya dari segala sesuatu yang ada itu merupakan realitas yang tampak atau tidak ? Ada tiga teori yang mencoba menjawab masalah itu, yaitu teori idealisme, materialisme dan dualisme<!–[if !supportFootnotes]–>[vi]<!–[endif]–>.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

ETIKA: TINDAKAN BAIK DAN BURUK

 

Etika sering disebut filsafat moral. Etika merupakan cabang filsafat yang berbicara mengenai tindakan manusia dalam kaitannya dengan tujuan utama hidupnya. Etika membahas baik-buruk atau benar-tidaknya tingkah laku dan tindakan manusia serta sekaligus menyoroti kewajiban-kewajiban manusia. Etika mempersoalkan bagaimana manusia seharusnya berbuat atau bertindak.

 

Tindakan manusia ditentukan oleh macam-macam norma. Etika menolong manusia untuk mengambil sikap terhadap semua norma dari luar dan dari dalam, supaya manusia mencapai kesadaran moran yang otonom.

 

Etika menyelidiki dasar semua norma moral. Dalam etika biasanya dibedakan antara “etika deskriptif” dan “etika normatif”. Etika deskriptif memberik gambaran dari gejala kesadaran moral, dari norma dan konsep-konsep etis. Etika normatif tidak berbicara lagi tentang gejala, melainkan tentang apa yang sebenarnya harus merupakan tindakan manusia. Dalam etika normatif, norma dinilai dan setiap manusia ditentukan.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

ESTETIKA: PENGALAMAN DAN PENGAMATAN SENI

 

Estetika merupakan ranting filsafat yang membicarakan tentang seni atau keindahan, bukan hanya sebagai karya seni belaka tetapi juga sebagai kegiatan seni.

 

Pengalaman akan keindahan merupakan objek dari estetika. Dalam estetika, manusia mencari hakikat keindahan, bentuk pengalaman keindahan, penyelidikan emosi manusia sebagai reaksi terhadap yang indah, yang agung, yang tragis, yang mengharukan.

 

Estetika biasa dibagi dua, yaitu deskriptif dan normatif. Estetika deskriptif menggambarkan gejala pengalaman keindahan. Estetika normatif mencari dasar pengalaman itu.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

FILSAFAT SEBAGAI ILMU KRITIS

 

Filsafat sering dituduh sebagai sekularistik, ateis dan anarkis karena suka menelanjangi selubuh ideologis pelbagai kepentingan duniawi, termasuk yang tersembunyi dalam pakaian yang alim. Filsafat cenderung dan selalu diharapkan cenderung mempertanyakan apa saja secara kritis, seluruh realitas dipertanyakan. Pertanyaan kritis filsafat bukan sekedar hanya ingin menghancurkan tapi pertanyaan diajukan agar manusia dapat menanggapi realitas secara rasional dan bertanggung jawab. Filsafat dapat dipandang sebagai usaha manusia untuk menangani pertanyaan fundamental secara bertanggung jawab.

 

 

 

BAB II

 

PENCARIAN METODE FILOSOFIS

 

(Jelajah Singkat Tentang Metode-Metode Filsafat)

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

PENGANTAR

 

Kata metode berasal dari kata methodos. Methodos berarti penelitian, hipotesa ilmiah dan uraian ilmiah. Maka dapat dikatakan bahwa metode adalah cara kerja yang sistematis yang digunakan untuk memahami suatu objek yang dipermasalahkan atau realitas yang dianalisa.

 

Metode, sejak awal, merupakan instrumen utama dalam proses dan perkembangan ilmu pengetahuan sejak dari awal suatu penelitian hingga mencapai pemahaman baru dan kebenaran ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Metode yang benar dan sah akan menjamin kebenaran yang benar dan sah pula. Maka tidak mengherankan apabila setiap cabang ilmu pengetahuan mengembangkan metodologi yang sesuai dengan objek penelitiannya. Keharusan metodis adalah keniscayaan dalam pencapaian pengetahuan. Tapi metodologi bisa berbeda bagi setiap bidang ilmu pengetahuan<!–[if !supportFootnotes]–>[vii]<!–[endif]–>.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

METODE FILSAFAT

 

Metode dan Objek Filsafat. Dalam filsafat, metode dan objek formal filsafat tidak terpisahkan. Masing-masing aliran filsafat menentukan objek formalnya. Dengan demikian, aliran filsafat menentukan metode dan logikanya sendiri. Setiap aliran filsafat mempunyai kemandirian dalam bidang ilmiahnya. Kemandirian itu menyebabkan bahwa filsafat menjelaskan, mempertanggungjawabkan dan membela metode yang dipakainya.

 

Filsafat mengajukan claims of discovery of the correct method<!–[if !supportFootnotes]–>[viii]<!–[endif]–>. Tapi di pihak lain sering kali ada perbedaan mendasar antara apa yang benar-benar dikerjakan seorang filsuf, dan tuntutan metodologisnya.

 

Pemakaian metode ilmiah umum. Meskipun filsafat mempunyai metodenya sendiri, dengan sendirinya filsafat memakai unsur-unsur metode umum. Setiap paham filsafat menerapkan unsur metodologi umum ini menurut caranya sendiri. Ada beberapa tekanan yang nampak dalam paham filsafat. Segi subjektif: rasionalisme, pragmatisme, fenomenologi, positivisme, empirisme. Segi objektif: realisme, idealisme, materialisme, monisme dan lainnya.

 

Metode-metode Filsafat. Dalam sejarah filsafat, banyak metode yang telah dikembangkan. Beberapa metode filsafat yang sempat tercatat dalam sejarah filsafat adalah sebagai berikut.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

METODE REDUCTIO AD ABSURDUM

 

Metode ini dikembangkan oleh Zeno, salah seorang murid Parmenides. Zeno sering disebut sebagai Bapak Metafisika Barat yang pertama. Metode ini adalah metode yang ingin meraih kebenaran, dengan membuktikan kesalahan premis-premis lawan, yang caranya dengan mereduksi premis lawan menjadi kontradiksi sehingga kesimpulannya menjadi mustahil. Inilah reductio ad absurdum.

 

Zeno mengikuti argumentasi Parmenides tentang monisme realitas. Argumentasi Zeno ini dipakai untuk mempertahankan serangan dari ide pluralisme. Zeno mengatakan seandainya ada banyak titik yang terdapat di antara titik A dan B, berarti kita harus mengakui adanya titik-titik yang tak terbatas di antara A dan B. Jika titiknya tak terbatas, jarak tak terbatas antara A dan B tidak mungkin tercapai. Tapi jika ada orang yang bisa berjalan dari A ke B, itu berarti jarak A dan B dapat dilintasi. Jika A ke B bisa dilintasi berarti jarak A dan B terbatas. Jadi jika kita menarik hipotesis mula yang mengatakan bahwa ada banyak titik yang terdapat di antara titik A dan titik B adalah salah. Maka, pluralitas adalah absurd, mustahil dan tidak masuk akal.

 

Parmenides pernah mengatakan bahwa tidak ada ruang kosong, yang berarti bahwa yang ada tidak berada dalam ada yang lain karena yang ada pasti mengisi seluruh tempat. Zeno melengkapi argumentasi itu dengan pernyataan: jika ada ruang kosong, ruang kosong itu berada dalam ruang kosong yang lain dan ruang kosong yang lain itu berada dalam ruang kosong yang lain pula dan seterusnya sampai tak terbatas. Itu artinya akan ada senantiasa ruang dalam ruang. Oleh karena itu, jika dikatakan bahwa yang ada berada dalam ada yang lain, jelas bahwa pernyataan itu tidak benar. Yang benar adalah yang ada tidak berada dalam ada yang lain. Tegasnya, ruang kosong itu tidak mungkin berada dalam ruang kosong yang lain karena yang ada itu senantiasa mengisi seluruh tempat sehingga hipotesis yang mengatakan bahwa ruang kosong itu ada adalah suatu yang mustahil.

 

Zeno menambahkan jika ruang kosong itu tidak ada, berarti gerak tidak ada. Ini karena jika dikatakan bahwa gerak itu ada, berarti bahwa ruang kosong harus ada karena gerak dimungkinkan jika ada ruang kosong. Zeno membuktikan hal itu dengan empat contoh terkemuka: dikotomi paradoks, Akhiles – si pelari, Anak panah dan Benda yang bergerak bertentangan<!–[if !supportFootnotes]–>[ix]<!–[endif]–>.

 

Metode Zeno ini memberikan nilai abadi bagi filsafat karena tidak ada pernyataan yang melahirkan pertentangan yang dianggap benar. Hukum tidak ada pertentangan ini merupakan prinsip fundamental dalam logika. Metode Zeno ini berguna dalam orasi dan perdebatan yang rasional dan logis. Zeno adalah orang pertama yang juga menggunakan metode dialektik, dalam arti bahwa orang mencari kebenaran lewat perdebatan dan bersoal secara sistematis.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

METODE MAIEUTIK DIALEKTIS KRITIS INDUKTIF

 

Metode Maieutik dikembangkan oleh Sokrates. Dalam sejarah filsafat Yunani, Sokrates adalah salah satu filsuf yang terkemuka. Hanya sayang, dia tidak pernah meninggalkan bukti otentik yang bisa dianggap sebagai karya asli Sokrates. Karya Sokrates didapatkan dari beberapa karya Plato dan Aristoteles. Tapi pemikiran Sokrates yang berhasil direkam hanya bisa dilihat dari karya Plato, terutama dalam dialog-dialog yang pertama, yang sering disebut dengan dialog Sokratik<!–[if !supportFootnotes]–>[x]<!–[endif]–>.

 

Pemikiran Sokrates berpusat pada manusia. Refleksi filosofis Sokrates berangkat dari kehidupan sehari-hari. Jadi, menurut Sokrates melihat bahwa kehidupan sehari-hari sebagai kebenaran objektif. Sokrates dalam filsafatnya menolak subjektivisme dan relativisme aliran sofisme. Kebenaran objektif yang dicapai bukan sekedar didapatkan dari pengetahuan teoritis tapi justru dari kebajikan manusia. Filsafat Sokrates adalah upaya untuk mencapai kebajikan. Kebajikan harus nampak dan mengantar manusia kepada kebahagiaan sejati. Jadi, pengetahuan dan kebenaran objektif selalu menghasilkan tindakan yang benar secara objektif pula. Dan, disitulah kebahagiaan sejati dapat diraih.

 

Untuk mencapai objektivitas maka diperlukan metode yang sesuai. Sokrates percaya bahwa pengetahuan akan kebenaran objektif itu tersimpan dalam jiwa setiap orang sejak masa praeksistensinya. Oleh sebab itu, filsafat Sokrates tidsak mengajarkan kebenaran tapi hanya menolong orang mencapai kebenaran. Filsafat menolong manusia melahirkan kebenaran seperti layaknya ibu melahirkan bayinya. Maka, tugas filsafat adalah tugas untuk menjadi bidan yang menolong manusia melahirkan kebenaran. Metode itu disebut dengan metode teknik kebidanan (maieutika tekhne).

 

Metode kebidanan ini diperoleh dengan percakapan (konversasi). Sokrates selalu berfilsafat justru dalam percakapan. Lewat percakapan, Sokrates melihat ada kebenaran-kebenaran individual yang bersifat universal. Sampai taraf tertentu, percakapan ini akan menghasilkan persepsi induktif yang nantinya akan dikembangkan oleh filsuf yang lain.

 

Dalam dialog, Sokrates melibatkan diri secara aktif dalam memanfaatkan argumentasi rasional dengan analisis yang jelas atas klasifikasi, keyakinan dan opini yang melahirkan kebenaran. Percakapan kritis ala Sokrates bisa membimbing manusia untuk bisa memilah dan menemukan kebenaran yang sesungguhnya.

 

Metode percakapan kritis yang dilakukan Sokrates juga disebut dengan metode dialektis. Sementara yang lain, beranggapan bahwa metode dialektis bisa disebut dengan metode interogasi.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

METODE DEDUKTIF SPEKULATIF TRANSENDENTAL

 

Metode ini dikembangkan oleh Plato, murid dari Sokrates. Plato meletakkan titik refleksi pemikiran filosofisnya pada bidang yang luas, yaitu ilmu pengetahuan. Dari sekian banyak cabang ilmu pengetahuan, Plato menitikberatkan perhatiannya pada ilmu eksakta. Dari titik refleksi filosofis ini lahirlah penalaran deduktif yang terlihat jelas melalui argumentasi-argumentasi deduktif yang sistematis<!–[if !supportFootnotes]–>[xi]<!–[endif]–>.

 

Dasar seluruh filsafat Plato adalah ajaran ide. Ajaran ide Plato ini melihat bahwa idea adalah realitas yang sejati dibandingkan dengan dunia inderawi yang ditangkap oleh indera. Dunia idea adalah realitas yang tidak bisa dirasa, dilihat dan didengar. Idea adalah dunia objektif dan berada di luar pengalaman manusia. Pengetahuan adalah ingatan terhadap apa yang telah diketahui di dunia idea. Sistem pengetahuan Plato semacam ini bersifat transendental spekulatif.

 

METODE SILOGISME DEDUKTIF

 

Metode ini dikembangkan oleh Aristoteles. Aristoteles menyatakan bahwa ada dua metode yang dapat digunakan untuk menarik kesimpulan yang benar, yaitu metode induktif dan deduktif<!–[if !supportFootnotes]–>[xii]<!–[endif]–>. Induksi adalah cara menarik kesimpulan yang bersifat umum dari hal yang khusus. Deduksi adalah cara menarik kesimpulan berdasarkan dua kebenaran yang pasti dan tak diragukan lagi. Induksi berawal dari pengamatan dan pengetahuan inderawi. Sementara, deduksi terlepas dari pengamatan dan pengetahuan inderawi.

 

Aristoteles dalam filsafat Barat dikenal sebagai Bapak Logika Barat. Logika adalah salah satu karya filsafat besar yang dihasilkan oleh Aristoteles.

 

Sebenarnya, Logika tidak pernah digunakan oleh Aristoteles. Logika dimanfaatkan untuk meneliti argumentasi yang berangkat dari proposisi-proposisi yang benar, yang dipakainya istilah analitika. Adapun untuk meneliti argumentasi-argumentasi yang bertolak dari proposisi-proposisi yang diragukan kebenarannya, dipakainya istilah dialektika.

 

Inti logika adalah silogisme. Silogisme adalah alat dan mekanisme penalaran untuk menarik kesimpulan yang benar berdasarkan premis-premis yang benar adalah bentuk formal penalaran deduktif. Deduksi, menurut Aristoteles, adalah metode terbaik untuk memperoleh kesimpulan untuk meraih pengetahuan dan kebenaran baru. Itulah metode silogisme deduktif.

 

Silogisme adalah bentuk formal deduksi. Silogisme mempunyai tiga proposisi. Proposisi pertama dan kedua disebut premis. Proposisi ketiga disebut kesimpulan yang ditarik dari proposisi pertama dan kedua. Tiap proposisi mempunyai dua term. Maka, setiap silogisme mempunyai enam term. Karena setiap term dalam satu silogisme biasa disebut dua kali, maka dalam setiap silogisme hanya mempunyai tiga term. Apabila proposisi yang ketiga disebut kesimpulan, maka dalam proposisi yangketiga terdapat dua term dari ketiga term yang disebut tadi. Yang menjadi subjek konklusi disebut term minor. Predikat kesimpulan disebut term mayor. Term yang terdapat pada dua proposisi disebut term tengah.

 

Pola dan sistematika penalaran silogisme-deduktif adalah penetapan kebenaran universal kemudian menjabarkannya pada hal yang lebih khusus.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

METODE INTUITIF-KONTEMPLATIF MISTIS

 

Metode ini berkembang dengan ide Plotinos dengan ajaran Neo-Platonisme. Filsafat Plotinos adalah kulminasi dan sintesa definitif aneka ragam filsafat Yunani. Filsafat Plotinos mengambil ide dasar pemikiran Plato. Pemikiran Plato mengenai ide kebaikan sebagai ide yang tertinggi dalam dunia ide. Tetapi, tidak berarti pemikiran Plotinos tidak murni.

 

Ide kebaikan dalam ajaran Plotinos disebut sebagai to hen (yang esa/the one). Yang Esa meruapakan yang awal atau yang pertama, yang paling baik, yang paling tinggi dan yang kekal. Yang esa tidak dapat dikenali oleh manusia karena hal itu tidak dapat dibandingkan atau disamakan dengan apa pun juga. Yang Esa merupakan pusat daya dan pusat kekuatan. Seluruh realitas memancar keluar dari pusat itu. Proses pancaran dari To Hen disebut Emanasi. Meskipun melalui proses emanasi, eksistensi Yang Esa tidak berkurang atau berubah.

 

Pancaran pertama, menurut Plotinos, disebut nous. Nous disebut juga budi, roh, atau akal. Nous berada paling dekat dengan To Hen. Nous adalah gambaran atau bayangan To Hen. Setelah nous muncul apa yang disebut dengan psykhe atau jiwa. Psykhe terletak di perbatasan antara nous dan materi. Psykhe adalah penghubung antara roh dan materi. Jadi dapat dikatakan pula bahwa psykhe adalah penghubung dan penggabungan antara yang rohani dengan yang jasmani. Psykhe kemudian disusul oleh Me On atau materi/zat sebagai aliran lingkaran ketiga. Me On hanya merupakan potensi atau suatu kemungkinan bagi perwujudan suatu keberadaan dalam suatu bentuk. Psykhe bertemu dengan materi menghasilkan tubuh, yang pada hakikatnya berlawanan dengan nous dan To Hen.

 

Perlawanan dalam tubuh ini menghasilkan penyimpangan. Ini berarti penyimpangan terhadap kebenaran. Untuk kembali kepada kebenaran maka manusia harus kembali kepada To Hen dan menyatu dengannya. Inilah yang menjadi tujuan manusia. Jika dalam proses emanasi, manusia meninggalkan terang dan kebenaran mutlak masuk ke dalam kegelapan mutlak. Maka untuk mencapai kebenaran dan terang mutlak, manusia harus menempuh jalan kontemplasi. Kontemplasi merupakan jalan pembersihan untuk bersatu dengan kebenaran mutlak. Manusia harus berani berpikir sebaliknya, yaitu tidak memikirkan hal inderawi. Hal inderawi menjadi penghalang dalam proses pemersatuan manusia dengan To Hen. Kontemplasi adalah proses pembersihan jiwa manusia yang merupakan kondisi bagi kesatuan mistis dengan To Hen.

 

Filsafat Plotinos tidak berhenti pada ajaran. Tapi ajaran Plotinos mengarah pada suatu cara hidup. Ini berarti bahwa ajaran Plotinos tidak berhenti pada masalah benar tidaknya ajaran yang disampaikan tapi lebih dari itu, ajaran Plotinos harus mengarah pada suatu sikap hidup yang tidak terikat pada hal duniawi. Itulah sebabnya ajaran Plotinos sering disebut ajaran yang kontemplatif-mistis.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

METODE SKOLASTIK: SINTETIS-DEDUKTIF

 

Filsafat Skolastik menemukan puncak kejayaannya waktu Thomas Aquinas menjadi filsuf pokoknya. Filsafat skolastik dikembangkan dalam sekolah-sekolah biara dan keuskupan. Para filsuf skolastik tidak memisahkan filsafat dari teologi kristiani. Jadi dapat dikatakan bahwa filsafat integral dalam ajaran teologi.

 

Gaya filsafat abad pertengahan adalah sintesa ajaran filsafat sebelumnya. Sistem skolastik mengarah pada jalan tengah ekstrem-ekstrem ajaran filsafat waktu itu. Sintesa filsafat skolastik terdiri dari ajaran neoplatonis, ajaran Agustinus, Boetius, Ibn Sina, Ibn Rushd dan Maimonides. Selain ajaran-ajaran di atas, aliran filsafat pokok yang dianut oleh filsuf skolastik, terutama Thomas Aquinas adalah filsafat Aristotelian. Filsafat Aristoteles memberikan perspektif baru mengenai manusia dan kosmos. Thomas Aquinas mendasarkan filsafatnya pada filsafat Aristotelian terutama dalam ajaran potentia dan actus.

 

Prinsip metode skolastik adalah sintesis-deduktif. Prinsip ini menekankan segi yang sebenarnya terdapat pada semua filsafat dan ilmu. Prinsip deduktif adalah prinsip awal dari filsafat skolastik. Bertitik tolak dari prinsip sederhana yang sangat umum diturunkan hubungan-hubungan yang lebih kompleks dan khusus. Di dunia barat sudah lama dikenal prinsip logika Aristoteles. Prinsip logika ini diintegrasikan dengan prinsip ajaran neoplatonis dan agustinian. Prinsip aristotelian mengenai nova logica mendapatkan koreksi dan tambahan pada ajaran neoplatonis. Metode-metode itu diinterpretasikan dengan cara dan gaya lebih baru yang dikembangkan oleh Thomas Aquinas.

 

Thomas Aquinas pertama-tama mengolah filsafat Aristoteles. Thomas Aquinas mencoba mengkritisi ajaran aristotelian dengan prinsip ajaran tersebut. Thomas menambah problematika filsafat aristotelian. Demikian juga, Thomas memperlakukan filsafat Plato yang diwakili oleh pemikiran Agustinus<!–[if !supportFootnotes]–>[xiii]<!–[endif]–>.

 

Pemikiran Thomas Aquinas selalu mengarah bahwa pemikiran filosofis ditetapkan oleh evidensi. Inilah sebabnya pemikiran Thomas tidak selalu bersifat kompilatif dan eklektisisme tapi mengarah pada otonomi pemikiran.

 

Thomas dalam epistemologinya menyebutkan bahwa semua pengertian manusia selalu melalui pencerapan. Ini berarti bahwa pada suatu saat pemikiran Thomas juga bersifat mengandalkan kenyataan inderawi. Landasan pemikiran Thomas selalu mengandaikan pengamatan inderawi yang bersifat pasti dan sederhana<!–[if !supportFootnotes]–>[xiv]<!–[endif]–>. Maka sering pula pemikiran Thomas bersifat reflektif-analitis. Pengamatan dan analisa fakta-fakta adalah dasar kuat bagi sintesa Thomas Aquinas.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

METODE SKEPTISISME

 

Metode Skeptisisme ini dikembangkan oleh Rene Descartes. Dalam bidang matematika, Rene Descartes memadukan prinsip geometri dan aritmatika dengan menggunakan prinsip rumus aljabar yang kemudian dikenal dengan koordinat kartesian.

 

Awal filsafat Descartes adalah kebingungan. Filsafat begitu beragam dan dianggap Descartes sebagai ilmu yang simpang siur serta penuh dengan kontradiksi. Dalam kebingungannya, Descartes merasa harus berbuat lebih untuk penyempurnaan filsafat. Ia mencoba menyusun ilmu induk yang mengatasi seluruh ilmu pengetahuan dengan metode ilmiah yang bersifat umum dan cocok digunakan dalam segala ilmu. Logika Aristoteles tidak bermanfaat karena lewat logika itu tidak tercapai pengetahuan yang baru. Descartes mencoba untuk melepaskan diri dari ajaran-ajaran tradisional agar ia bisa memperbaharui filsafat dan ilmu pengetahuan.

 

Descartes menulis dua buku monumental, yaitu Discourse on Method dan Meditations. Dalam dua buku itu, Descartes membentangkan prinsip-prinsip filsafatnya. Penjelasan Descartes dimulai dengan prinsip keraguan atau kesangsian kartesian. Sebuah pengetahuan baru adalah pengetahuan yang kebenarannya tidak dapat diragukan. Pengetahuan sejati dimulai dari kepastian. Titik tolak pengetahuan yang benar adalah titik pengetahuan yang tidak dapat diragukan atau disangsikan. Dasar pengetahuan adalah kepastian. Kepastian itu adalah kondisi tak bersyarat dan tidak tergantung dari hal yang dipelajari dan dialami karena segala sesuatu yang dipelajari dan dialami sewaktu-waktu dapat berubah. Perubahan menandakan ketidakpastian.

 

Kepastian hal yang benar-benar pasti dan ada dapat dicapai dengan meragukan dan menyangsikan segala sesuatu. Bila sesuatu itu bisa bertahan atas segala keraguan radikal maka sesuatu itu bisa disebut dengan kebenaran yang pasti. Inilah yang disebut dengan kebenaran filsafat yang pertama dan terutama.

 

Setelah meragukan segala sesuatu, Descartes menemukan ada satu hal yang tak dapat diragukan lagi, saya yang sedang menyangsikan semua hal, sedang berpikir, dan jika saya sedang berpikir itu berarti tidak dapat diragukan lagi bahwa saya pasti ada. Maka muncullah istilah Je Pense, donc Je Suis. Descartes berpendapat manusia harus menjadi titik berangkat pemikiran yang rasional. Untuk mencapai kebenaran, rasio harus berperan semaksimal mungkin.

 

Maka dapat dikatakan pemikiran Descartes sangat bersifat rasional. Analisa konseptual diidentifikasikan lebih dahulu elemen-elemen sederhana. Analisa identifikasi tersebut disintesakan dengan suatu pemahaman struktur realitas dengan memahami hubungan yang perlu di dalam elemen-elemen tersebut yang harus berdiri satu terhadap yang lainnya. Pemanfaatan metode ini menghasilkan desakan ketidakpastian hingga ke batas yang paling akhir dengan membuat keterangan atau fakta yang menopang keyakinan-keyakinan yang telah diterima selama itu menjadi sasaran kritik yang paling tidak kenal kompromi dan menangguhkan setiap pendapat kendati tidak masuk akal tapi sedikit banyak mengandung suatu yang rasional meragukan.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

METODE KRITIS-TRANSENDENTAL

 

Metode kritis transendental dikembangkan oleh Immanuel Kant. Filsafat Kant adalah titik tolak periode baru bagi filsafat barat. Ia mensintesakan dan mengatasi aliran rasionalisme dan empirisme. Di satu pihak, ia mempertahankan objektivitas, universalitas dan kepercayaan akan pengertian, dan di lain pihak ia menerima bahwa pengertian bertolak dari fenomena dan tidak dapat melebihi batas-batasnya. Filsafat Kant menekankan pengertian dan penilaian manusia, bukan dalam aspek psikologis melainkan sebagai analisa kritis. Objektivitas menyesuaikan diri dengan pengertian manusia.

 

Metode Kant menerima pengertian tertentu yang objektif. Analisa kritis Kant dapat dibedakan dari analisa psikologis yang empirik, analisa logis yang memperlihatkan unsur-unsur isi pengertian satu sama lain, analisa ontologis yang meneliti realitas menurut adanya dan analisa kriteriologis yang hanya menyelidiki relasi formal antara kegiatan subjek sejauh ia mengartikan dan menilai hal tertentu, dan objek sejauh itu merupakan fenomena yang ditanggapi.

 

Metode Kant berpangkal dari keraguan atas kemungkinan dan kompetensi metafisika. Kant meletakkan pengertian dalam dua bagian besar, yaitu pengertian analitis yang selalu apriori, pengertian sintetis yang bersifat korelatif dan inspiratif. Metode Kant juga berpangkal pada pertanyaan metodis mengenai dasar objektivitas pengertian. Dasar rasional objektivitas pengertian memakai dasar analisa transendental. I. Kant menganalisa manakah syarat-syarat minimal yang dengan mutlak harus dipenuhi dalam subjek, supaya memungkinkan objektivitas itu<!–[if !supportFootnotes]–>[xv]<!–[endif]–>. Analisa itu disebut deduksi metafisis<!–[if !supportFootnotes]–>[xvi]<!–[endif]–>.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

METODE IDEALISME-DIALEKTIS

 

Metode dialektis dikembangkan oleh George Wilhelm Friedrich Hegel. Hegel melawan ajaran filsafat Descartes dan Spinoza. Jalan pikiran Hegel untuk memahami kenyataan adalah mengikuti gerakan pikiran dan konsep. Struktur dalam pikiran adalah sama dengan proses genetis dalam kenyataan. Antara metode dan sistem atau teori tidak dapat dipisahkan. Dan keduanya adalah kenyataan. Dinamika pemikiran Hegel ini disebut dialektis. Dialektika diungkapkan sebagai tiga langkah, yaitu tesis, anti tesis dan sintesis<!–[if !supportFootnotes]–>[xvii]<!–[endif]–>. Seluruh karya Hegel memperlihatkan gerakan tiga langkah tersebut.

 

Langkah metodis Hegel dimulai dengan penegasan. Titik tolak Hegel mengambil salah satu pengertian atau konsep yang dianggap jelas. Pengertian dan konsep yang jelas adalah pengertian empiris inderawi. Pengertian tersebut bersifat spontan dan non-reflektif, abstrak, umum, statis dan konseptual. Tapi dalam proses pemikiran, pengertian tersebut mulai kehilangan ketegasannya dan mulai bersifat cair. Maka Hegel mulai pada langkah berikutnya yang biasa disebut pengingkaran.

 

Langkah pengingkaran adalah usaha mengingkari langkah pertama. Langkah perlawanan itu mencari bentuk alternatif yang bisa ditambahkan dalam pengertian yang dicapai dalam langkah pertama. Maka terjadi proses dialektika pikiran. Konsep atau pengertian yang muncul dalam langkah kedua itu diperlakukan menurut cara yang sama seperti langkah pertama. Setelah menemukan perlawanan konseptual yang berhubungan dengan pengertian pertama maka pengertian dan konsep itu bergerak dinamis.

 

Dinamik dalam langkah kedua tidak membawa pikiran kembali pada titik pertama. Langkah pertama telah memuat langkah kedua secara implisit (dalam perlawanannya). Jadi dua pengertian konseptual mulai dipikirkan bersama-sama, dan dengan demikian dua konsep itu saling mengisi, memperkaya, memperbaharui. Kedua konsep itu menjadi satu konsep yang lebih padat. Itulah yang disebut langkah sintesis.

 

Menurut Hegel, perlawanan adalah motor dialektika. Perlawanan adalah jalan atau tahap mutlak yang harus dialami dulu untuk mencapai kebenaran.

 

METODE EKSISTENSIAL

 

Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang menolak pemutlakan akal budi dan pemikiran konsep abstrak murni. Metode eksistensial berupaya untuk memahami manusia yang berada dalam dunia, yaitu manusia yang berada pada situasi yang khusus dan unik.

 

Metode eksistensial pertama diungkapkan oleh Kierkegaard. Pemikiran Kierkegaard merupakan reaksi yang terutama tertuju dan bereaksi pada rasionalisme idealis Hegel yang dianggapnya tidak berguna. Dalam filsafat, menurut pemikir eksistensialisme, yang paling penting adalah kebenaran subjektif. Tapi tentu saja tidak berarti setiap keyakinan subjektif adalah kebenaran. Kebenaran selalu bersifat personal dan tidak sekedar proposisional.

 

Menurut pemikiran eksistensial, kebenaran dicapai dengan partisipasi manusia dalam setiap realitas yang mau diselidiki. Kebenaran hanya dapat ditemukan dalam realitas yang konkret. Secara umum, metode eksistensial adalah kebalikan pemikiran filsafat tradisional. Pemikiran eksistensial selalu menempatkan subjektivitas di atas objektivitas dan nilai lebih perlu daripada fakta.

 

METODE FENOMENOLOGIS

 

Peletak dasar metode fenomenologis adalah Edmund Husserl. Salah satu pemikir fenomenologis terkenal adalah Martin Heidegger. Fenomenologi berinspirasi pada pembedaan yang dilakukan oleh Immanuel Kant antara noumenal dan phenomenal serta pengembangan kritis teori idealisme Hegel.

 

Husserl mau menentukan metode filosofis ilmiah yang lepas dari prasangka metafisis. Metode itu harus menjamin filsafat sebagai suatu sistem pengetahuan yang terjalin oleh alasan-alasan sedemikian rupa sehingga setiap langkah berdasarkan langkah sebelumnya secara niscaya.

 

Pengembangan metode fenomenologis mengarah pada pemusatan perhatian kepada fenomena tanpa praduga. Ungkapan terkenal proses tersebut adalah zu den sachen selbst (terarah kepada benda itu sendiri). Dalam keterarahan ke benda itu, sesungguhnya realitas itu dibiarkan untuk mengungkapkan hakikat dirinya sendiri.

 

Hakikat fenomena yang sesungguhnya berada di balik yang menampakkan diri. Pengamatan pertama belum tentu sanggup membuat fenomena itu mengungkapkan hakikat dirinya. Karena itu, diperlukan pengamatan kedua yang disebut sebagai pengamatan intuitif. Pengamatan intuitif ini melalui tiga tahap reduksi, yaitu reduksi fenomenologis, eidetis dan transendental<!–[if !supportFootnotes]–>[xviii]<!–[endif]–>.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

METODE ANALITIKA-BAHASA

 

Filsafat analitik adalah aliran filsafat yang berasal dari kelompok filsuf yang menyebut diri mereka sebagai Lingkaran Wina. Filsafat analitik menolak metafisika karena mereka berpendapat bahwa metafisika tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Salah satu tokoh filsuf analitik adalah Ludwig Wittgenstein.

 

Metode yang digunakan para filsuf analitik berbeda satu dengan yang lain. Tapi yang jelas ada dua aliran besar dalam metode analitika yang berkembang sampai sekarang. Kedua metode itu adalah metode verifikasi dan klarifikasi.

 

Metode verifikasi dikembangkan oleh gerakan positivisme logis. Salah satu tokoh verifikasi adalah A. Y. Ayer (1910-1970). Ayer mencoba untuk mengeliminasi metafisika berdasarkan prinsip verifikasi. Prinsip verifikasi Ayer menyatakan bahwa pernyataan benar-benar penuh apabila pernyataan itu dapat diverifikasikan secara sintetik oleh satu atau lebih dari panca indera manusia<!–[if !supportFootnotes]–>[xix]<!–[endif]–>. Ayer membagi verifikasi dalam dua dasar, yaitu verifikasi kuat dan verifikasi lemah.

 

Metode klarifikasi bersumber pada prinsip-prinsip analisa yang dikembangkan oleh Ludwig Wittgenstein. Wittgenstein yakin bahwa kekacauan dalam filsafat bisa diatasi dengan analisis bahasa. Wittgenstein berpendapat bahwa kalau ada pertanyaan yang diajukan maka harus ada jawaban yang tersedia. Tapi tidak semua pertanyaan mempunyai makna. Agar tidak terjebak dalam persoalan filosofis yang tak bermakna maka harus ada peraturan-peraturan yang mendasar dalam bahasa yang terungkap dalam “permainan bahasa”. Wittgenstein menyatakan bahwa manusia harus mendengar apa arti yang terkandung dalam suatu ungkapan bahasa. Maka manusia harus menganalisis bentuk hidup hingga dasar terdalam setiap permainan bahasa<!–[if !supportFootnotes]–>[xx]<!–[endif]–>. Makna ditentukan oleh kata yang digunakan dalam konteksnya. Lewat analisa bahasa, seseorang dapat membuat jelas arti bahasa sebagaimana yang dimaksudkan oleh yang menggunakan bahasa itu. Metode klarifikasi tidak memuat pengandaian filosofis, epistemologis atau metafisis. Analisis bahasa didasarkan semata-mata pada penelitian bahasa secara logis tanpa mendeduksikan sesuatu sehingga pada prinsipnya hanya membuat jelas apa yang dikatakan lewat suatu ungkapan bahasa.

 

 

 

BAB III

 

DEBAT BERKEPANJANGAN DALAM SEJARAH FILSAFAT

 

(Jelajah Singkat Beberapa Tokoh Filsafat Berpengaruh)

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

PENGANTAR

 

Filsafat dan sejarah merupakan pasangan serasi yang berjalan seiring sekata dalam peradaban manusia. Sejarah suatu ilmu menjadi begitu penting ketika manusia berusaha menjejaki kebenaran yang dicari dalam setiap jamannya. Sejarah filsafat seakan menjadi forum diskusi kontinu mengenai pertanyaan-pertanyaan manusia, dan dalam diskusi ini rentetan pendapat dari semua jaman dan sudut dunia menjadi sama berharganya.

 

Sejarah filsafat menjadi semacam museum yang memuat koleksi raksasa dari pendapat para pemikir besar mengenai misteri kehidupan. Koleksi ini semakin besar ketika aliran filsafat begitu beragam, dan pendapat pemikirnya begitu bervariasi.

 

Dalam bab ini akan dipaparkan secara garis besar dan singkat mengenai debat berkelanjutan aliran filsafat dan para filsuf yang menonjol dalam peradaban manusia.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

THALES DAN AWAL MULA FILSAFAT

 

Filsafat dalam sejarah manusia dimulai di wilayah Yunani, tepatnya di kota Miletos kurang lebih tahun 6 sebelum masehi. Filsuf Miletosian begitu banyak tapi yang pertama disebut-sebut sebagai “Bapak Filsafat” adalah Thales.

 

Dalam sejarah filsafat Yunani, ajaran Thales didokumentasikan oleh Aristoteles. Ajaran filsafat pertama Thales yang terutama adalah bahwa alam semesta ini memuat arkhe<!–[if !supportFootnotes]–>[xxi]<!–[endif]–>. Menurut Thales, arkhe alam semesta adalah air. Jadi semua berasal dari air dan nanti akan kembali menjadi air. Anggapan itu terjadi karena air mempunyai 3 bentuk: cair, beku dan uap. Hanya saja Aristoteles tidak tahu alasan Thales menentukan prinsip air tersebut. Dalam ajaran ini pula, Aristoteles menyatakan bahwa Thales melihat bumi terletak di atas air. Bumi berasal dari air, mucul dari lautan dan terapung di atas air.

 

Aristoteles menambahkan juga bahwa Theles berpendapat, yaitu semua penuh dengan allah-allah. Aristoteles menyatakan mungkin Thales mau menyatakan bahwa jagad raya itu berjiwa. Hal itu terjadi karena Thales melihat magnet bisa menggerakkan besi. Jadi magnet berjiwa. Ajaran Thales mengenai materi yang hidup adalah hylezoisme. Tapi yang patut dicatat adalah bahwa kesimpulan-kesimpulan di atas tidak bisa dihubungkan dengan ajaran jiwa dunia di masa-masa sesudahnya.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

FILSAFAT PLATO

 

Filsafat Plato berpangkal dari ide dan ajaran Socrates. Socrates dan Plato hidup pada jaman yang berakar dalam peradaban Yunani kuno, yaitu wilayah Ionia.

 

Plato berusaha untuk mendokumentasikan karya Socrates. Maka dapat dikatakan bahwa sebenarnya Plato adalah salah satu nara sumber pengetahuan kita tentang Socrates.

 

Filsafat Plato bertitik pangkal pada adanya pertentangan antara ada dan menjadi, antara satu dan banyak, antara tetap dan berubah. Dapat dikatakan bahwa ajaran Plato berada dalam tegangan memihak Parmenides atau Herakleitos. Manakah dari dua alternatif tersebut dapat dipilih sebagai titik pangkal filsafat yang memang mencari asas utama dan pengetahuan sejati. Plato menampilkan Socrates berikut metode filsafatnya untuk menemukan pada diri manusia suatu kepastian pengetahuan. Pengetahuan berasal dari dalam jati dirinya yang bersifat bawaan sejak lahir. Pengetahuan mengalahkan keraguan yang muncul berdasarkan segala penampilan dan pengalaman jasmani atau inderawi yang bermacam-macam. Oleh karena itu, terdapatlah pertentangan antara jati diri dengan penampilan yang dialami setiap manusia. Pemecahan yang ditawarkan oleh Plato dengan pemakaian istilah dunia pengetahuan yang berarti luas, yaitu IDEA.

 

Kata Yunani itu berakar pada kata “Wid” yang berarti melihat dengan mata kepala amupun menatap dengan mata batin sampai mengetahui. Menurut Plato, pada awalnya jati diri atau jiwa hidup di dunia idea atau surga dan dunia itu jauh dari dunia yang fana ini. Sejak awal jiwa berada di dunia fana – maka secara bawaan -ia menatap dengan batinnya idea-idea sempurna dan abadi, yaitu idea kebaikan, kebenaran, keindahan, keadilan, idea manusia, idea kuda dan lain-lainnya. Entah karena apa, jiwa manusia itu jatuh dari dunia idea ke dalam dunia ini sampai dalam tubuh manusia. Melalui inderanya, ia melihat dan menatap dunia fana yang terdiri atas bayang-bayang dari idea yang semula pernah ditatapnya secara murni. Lalu manusia ingat akan idea-idea murni itu yang “dahulu kala” ditatapnya dan yang secara bawaan memang menemaninya secara terselubung<!–[if !supportFootnotes]–>[xxii]<!–[endif]–>.

 

Plato juga memakai perumpamaan lain dalam rangka usaha untuk menerangkan apa yang terjadi pada saat manusia mengenal dan mengetahui sesuatu. Pengetahuan sebagai ingatan akan suatu lapisan kesadaran bawaan dalam jati diri manusia dicirikan filsuf modern sebagai pengetahuan berdasarkan intuisi. Melalui kesan dan pengamatan intuitif, manusia merasa bahwa ia sudah tahu, tanpa merasa perlu melakukan suatu pengamatan atau penalaran lebih lanjut. Apabila manusia sudah lebih lama terlatih dalam hal intuisi, ia akan sanggup menatap dan seakan memiliki sejumlah idea, misalnya kebaikan, kebenaran, keadilan tapi juga tentang pemerintahan, negara, pendidikan, sampai idea itu tampil di hadapannya secara berjenjang. Berdasarkan nilai tertinggi kebenaran hingga nilai terendah maka dapat ditarik kesimpulan secara deduktif. Seperti dalam matematika. Plato berpendapat bahwa matematika adalah bentuk pengetahuan yang sempurna.

 

Filsafat Manusia Plato bersifat dualistis. Jiwa adalah hal utama, dipenjarakan oleh tubuh. Ungkapan itu adalah ungkapan sastra untuk memahami hakikat manusia. Jasa Plato terletak dalam upayanya menyatukan pertentangan para filsuf pra-socratik. Namun ia belum selesai menyajikan suatu gambaran tentang pengetahuan manusia dan tentang manusia itu sendiri sebagai suatu gejala yang tunggal atau esa.

 

Etika Plato amat menekankan unsur pengetahuan. Bila orang sudah cukup tahu, pasti ia akan hidup menurut pengetahuannya itu. Oleh karena itu, Plato sering menyadarkan orang dengan adanya suara batin, tapi dengan demikian belum selesai pula urang tentang manusia yang mencari tingkah laku yang baik dengan segala lapisan jasmani dan sosial.

 

Filsafat Politik Plato menjadi amat terkenal. Pemikirannya tentang negara malah menjadi acuan atau motivasi untuk mengembangkan epistemologi, filsafat manusia maupun etika. Akal budi dan pengetahuan manusia adalah sumber kebijakan menentukan segala keutamaan etis yang hendak dikembangkan, dengan para prajurit dan pada tahap lebih rendah para petani dan tukang di bawah mereka. Sama seperti keseimbangan antara segala keutamaan diatur keadilan, demikianlah pula para hakim menjamin kekuatan dan kemakmuran negara di bawah pimpinan para filsuf.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

FILSAFAT ARISTOTELES

 

Aristoteles adalah salah satu filsuf Yunani yang begitu luas mengembangkan filsafat sebagai sebuah kajian ilmiah<!–[if !supportFootnotes]–>[xxiii]<!–[endif]–>. Pengantar filsafat yang dihargai dan dikembangkan Aristoteles adalah Logika. Logika adalah kerangka teknis yang diperlukan manusia supaya penalarannya berjalan dengan tepat. Dasar logikanya adalah uraian keputusan yang kita temukan dalam bahasa. Uraian keputusan itu mencakup penegasan/pengingkaran, universal/partikular.

 

Seluruh logika Aristoteles mempunyai keistimewaan ganda. Di satu pihak, berasal dari pengamatan yang teliti tentang susunan bahasa. Di lain pihak, sekaligus mengangkat unsur keniscayaan dalam uraian bahasa itu. Dalam bahasa modern, logika Aristoteles menggabungkan unsur empiris-induktif dan rasional-deduktif. Dalam karya logikanya, Aristoteles memberikan dasar ilmu empiris dalam mencari hukum-hukum universal berdasarkan pengamatan.

 

Epistemologi yang dikembangkan Aristoteles juga berjasa dalam usahanya untuk menggambarkan tahapan kemajuan pengetahuan manusia. Ia mulai dari pengetahuan inderawi yang selalu partikular. Kemudian menuju pengetahuan akal budi yang bercirikan universal. Dalam hal ini, sistem pengetahuan Aristoteles berkebalikan dengan pengetahuan Plato. Dasar pengetahuan Aristoteles bukanlah intuisi melainkan abstraksi.

 

Filsafat Manusia Aristoteles berpangkal pada manusia sebagai subjek pengetahuan. Aristoteles menentang dualisme Plato tentang manusia. Aristoteles mengembangkan istilah hylemorfisme. Artinya, ia beranggapan bahwa apa saja yang kita jumpai di bumi ini secara terpadu merupakan pengejawantahan material sana-sini dari bentuk-bentuk yang sama<!–[if !supportFootnotes]–>[xxiv]<!–[endif]–>. Aristoteles menerangkan adanya banyak individu yang berbeda, dalam satu jenis. Bentuk dianggapnya sebagai yang memberikan “aktualitas” pada individu yang bersangkutan. Sedangkan “materi” seakan-akan menyediakan “kemungkinan” untuk pengejawantahan bentuk dalam setiap individu dengan cara yang berbeda-beda. Bentuk dalam makhluk hidup diberi nama jiwa, yang berlaku sama saja dengan tumbuhan, hewan dasn manusia. Hanya jiwa manusia mempunyai kedudukan istimewa, karena manusia berkat jiwanya yang khas itu tidak hanya sanggup mengamati dunia sekitar secara inderawi, tapi sanggup juga mengerti dunia maupun dirinya. Di samping itu, jiwa menerima dan dilengkapi “nous” yang memampukan manusia mengerti dan mengucapkan “logos” yang pada akhirnya menjelma menjadi bahasa.

 

Metafisika Aristoteles berpangkal pada “nous” atau akal budi. Bidang itu adalah bidang paling mulia dari manusia. Menurut Aristoteles, “nous” adalah lapisan paling tinggi yang memahami penegasan adanya “penggerak yang tidak digerakkan”. Nous tidak dipahami sebagai akal pasif tapi akal aktif (intelectus agens) yang ikut menentukan isi pemahaman daya cipta. Gejala perubahan dalam pandangan Aristoteles dilihat dalam dua realitas yang berbeda, yaitu “potentia” dan “actus”. Oleh sebab itu, wilayah metafisika Aristoteles adalah wilayah yang berbeda dengan Parmenides dan Herakleitos.

 

Etika dan Filsafat Politik adalah ajaran pokok lainnya dari Aristoteles. Titik tolak etika Aristoteles adalah manusia mengejar “eudaimonia”. Semua cara dan sarana menunjang tujuan tersebut. Kebahagiaan itu menyangkut manusia jiwa-raga sebagai anggota masyarakat, karena manusia adalah makhluk yang hidup berpolis. Ciri manusia sebagai mahkluk hidup adalah hidup dalam polis, maka Aristoteles menekankan sosialitas manusia. Manusia adalah zoon politikon.

 

Masyarakat dalam bentuk negara dilihat sebagai lembaga kodrati, yaitu bukan berdasarkan persetujuan saja seperti diajarkan para sofis dan skeptikus waktu itu. Semua warga negara wajib taat pada negara, pemimpin dan undang-undang. Dalam ajarannya, Aristoteles cenderung menekankan totalitarisme negara. Negara ada mengatasi keluarga. Negara wajib menyelenggarakan pendidikan. Pemimpin negara dapat dibentuk menurut pola berdasarkan pengamatan dan data yang diperoleh. Monarkhi adalah cara pemerintahan di bawah satu orang, yang dapat merosot menjadi tirani. Aristokrasi merupakan cara pemerintahan di bawah kelompok orang yang dinilai sebagai yang terbaik. Pemerintahan macam ini bisa merosot menjadi oligharkhi. Demokrasi yang diberi nama juga “politheia” berada di bawah kuasa rakyat, yang dapat merosot menjadi anarkhi. Aristoteles tidak memilih salah satu dari tiga bentuk itu. Ia juga tidak membandingkan ketiga hal di atas dengan susunan manusia.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

FILSAFAT PATRISTIK-SKOLASTIK: THOMAS AQUINAS

 

Agustinus dan Thomas Aquinas adalah beberapa tokoh filsuf-teolog pada waktu keemasan era patristik. Kedua tokoh Gereja ini meninggalkan banyak karya agung di bidang filsafat dan teologi.

 

Ciri filsafat patristik yang menonjol adalah bahwa filsafat tidak dapat dipisahkan dengan kajian teologi. Seluruh pemikiran filsuf patristik berpangkal dari pengalaman rohani pribadi. Filsafat patristik tidak begitu menerima otonomi filsafat sebagai ilmu. Pada akhirnya filsafat sering disebut sebagai hamba teologi.

 

Thomas Aquinas adalah satu filsuf patristik yang terkemuka. Karya besar Summa Theologiae adalah karya Thomas bagi sastra filsafat waktu itu. Pada waktu Thomas Aquinas berfilsafat dalam karya-karyanya terlihat adanya usaha otonomi filsafat. Thomas mendasarkan filsafatnya pada filsafat Aristoteles. Selain itu Thomas juga mensintesakan ajaran neoplatonisme, Agustinus, Boethius, karangan filsuf Arab dan karya filsafat Yahudi (Maimonides). Jadi dapat dikatakan bahwa karya Thomas adalah karya gabungan tradisi filosofis dan teologis.

 

Beberapa ajaran pokok Thomas Aquinas dapat dijelaskan sebagai berikut: ajaran tentang penciptaan. Ajaran ini berprinsip pada konsep “partisipasi”. Pendirian metafisis Thomas Aquinas menyebutkan bahwa segala sesuatu diciptakan mengambil bagian dalam keberadaan Allah. Semua tergantung pada Allah. Dunia dan realitas diciptakan dari ketiadaan. Dari prinsip ini, Thomas mau menekankan bahwa dunia tidak diadakan dari semacam bahan dasar dan penciptaan tidak terbatas dalam satu waktu saja. Penciptaan tetap berlangsung setiap saat. Thomas berpikir bahwa atas dasar filsafat saja tidak dapat dibuktikan bahwa dunia diciptakan dalam waktu. Dari sudut filsafat belaka tidak mustahil bahwa dunia diciptakan dari yang kekal.

 

Pengenalan akan Allah. Thomas mengakui kemampuan rasio untuk mengenali Allah. Allah tidak dapat dikenali secara langsung tapi melalui ciptaan-ciptaan. Thomas menolak pembuktian Anselmus melalui pembuktian ontologis. Thomas menawarkan lima jalan pengenalan akan Allah<!–[if !supportFootnotes]–>[xxv]<!–[endif]–>. Bukti pertama berpangkal dari adanya gerak dalam dunia jasmani. Setiap gerak pasti ada sebabnya. Oleh sebab itu, kita harus menerima suatu gerak pertama yang tidak disebabkan. Penyebab pertama itu dirumuskan dalam eksistensi Allah<!–[if !supportFootnotes]–>[xxvi]<!–[endif]–>.

 

Hylemorfisme<!–[if !supportFootnotes]–>[xxvii]<!–[endif]–>. Thomas Aquinas menyempurnakan ajaran materi dan bentuk Aristoteles. Materi dan bentuk bukan dua benda, tapi dua prinsip metafisis yang terarah yang satu dengan yang lain. Dua prinsip itu mengadakan segala benda jasmani. Perubahan terjadi jika terjadi perubahan bentuk ke bentuk yang lain. Materi tetap sama. Ajaran hylemorfisme Thomis juga berarti individuasi.

 

Di samping struktur materi dan bentuk, terdapat pula struktur yang lain dalam setiap realitas, yaitu “esentia” dan “eksistentia”. Esensi menunjuk tentang apanya realitas. Eksistensi menunjuk pada sesuatu yang ada.

 

Filsafat Manusia. Thomas dalam filsafat manusia menyebutkan bahwa manusia adalah satu substansi. Jiwa manusia tidak merupakan suatu substansi lengkap. Jiwa adalah bentuk yang menjiwai materi, yaitu badan. Jiwa menjalankan aktivitas yang melebihi badan. Itulah yang disebut dengan aktivitas rohani. Bila aktivitasnya rohani, maka jiwa manusia juga bersifat rohani. Thomas menyatakan meski tubuh mati, jiwa hidup terus. Thomas dengan demikian mendukung prinsip kebakaan jiwa. Meski demikian Thomas tetap menyatakan bahwa jiwa yang hidup selalu terarah pada badan yang sudah mati. Pendirian macam itu cocok dengan ajaran Kristiani mengenai kebangkitan badan.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

RASIONALISME: RENE DESCARTES

 

Periode renaissance dalam filsafat bisa disebut sebagai awal filsafat modern. Tokoh utama renaissance adalah kemunculan Rene Descartes sebagai tokoh rasionalisme<!–[if !supportFootnotes]–>[xxviii]<!–[endif]–>. Rene Descartes meletakkan filsafat modern atas landasan kemurnian rasio menangkap kepastian.

 

Kesangsian Metodis. Rene Descartes memulai filsafatnya dengan kesangsian atau keraguan. Sangsi akan segala hal, supaya tinggal diterima hal yang betul pasti, sehingga dapat terjadi suatu sistem filsafat seperti suatu sistem ilmu pasti: suatu sistem yang berdasarkan aksioma dan tersusun dalam langkah-langkah yang logis.

 

Subjek sebagai Pusat. Descartes bertitik pangkal pada diri manusia. Manusia, subjek pemikiran adalah sentra pikiran Descartes. Manusia membawa dan memahami kenyataan. Manusia menjadi pusat dunia.

 

Ide jelas dan tegas. Ketika Descartes mengungkapkan cogito, ergo sum, dia sebetulnya mempunyai kepastian. Saya berpikir adalah ide yang jelas dan tegas. Akal budi, rasio, mencapai kepastian ini tanpa pertolongan apapun. Inilah titik mula rasionalisme sebagai sebuah aliran filsafat yang berkembang waktu itu.

 

Dualisme. Menurut Descartes ada tiga substansi yang “jelas dan tegas” yaitu Allah, pemikiran dan keluasan. Pemikiran adalah bidang psikologi. Keluasan adalah bidang alam atau materi. Dalam diri manusia keluasan dan pemikiran pada hakikatnya adalah satu. Jiwa dan badan adalah dua realitas terpisah yang saling mempengaruhi melalui kelenjar kecil di bawah otak<!–[if !supportFootnotes]–>[xxix]<!–[endif]–>.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

EMPIRISME: DAVID HUME

 

Empirisme memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalan dan yang dimaksudkan dengannya ialah baik pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniah yang menyangkut pribadi manusia saja. Aliran empirisme memuncak pada David Hume (1711-1776)<!–[if !supportFootnotes]–>[xxx]<!–[endif]–>. David Hume memakai empirisme secara radikal.

 

Skeptisisme. Pada umumnya, David Hume meneruskan tradisi John Locke dan Berkeley. Filsafat Hume berasas skeptisistis. Dunia material dan subjek yang mengamati dihapus dari pemikiran Hume. “Aku” sebagai pusat kesadaran dan pemikiran dilihat hanya sebagai rangkaian “kesan” (impression). Rangkaian kesan ini merupakan bahan dari mana isi pengetahuan tersusun. Pikiran semata-mata sisa pengalaman inderawi. Dari kesan-kesan, tersusunlah asosiasi oleh keaktifan kehendak manusia. Manusia yang berkehendak tidak berarti manusia berjumlah banya. Karena kesadaran manusiawi itu bukan “jiwa”, melainkan hanya “deretan berkelanjutan dari kesan-kesan”. Hume menganut psikologi tanpa jiwa.

 

Agama. Hume begitu skeptis dalam bidang agama dan etika. Secara teoritis, agama dan etika tidak dapat membuktikan apa-apa. Kepentingan agama dan etika bisa terbukti dalam tataran praksis. Hume berpendapat bahwa agama ada dua, yaitu natural religion yang terbentuk dari akal budi dan popular religion yang penuh dengan fanatisme. Natural religion lebih berharga karena di dalamnya ada nilai.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

KRITISISME IMMANUEL KANT

 

Filsafat Kant menjadi sebuah sintesis yang kritis atas dua kecenderungan pokok: rasionalisme dan empirisme. Dengan sintesis ini, Kant menghasilkan sebuah cara berfilsafat yang baru yang menjadi pijakan dalam sejarah selanjutnya.

 

Pemikiran Kant ditujukan untuk menjawab 3 pertanyaan dasariah: Apa yang dapat saya ketahui, apa yang seharusnya saya lakukan, apa yang bisa saya harapkan?

 

Kant “memeriksa kesahihan pengetahuan” secara kritis, dengan asas-asas apriori dalam diri subjek (bukan dengan pengujian empiris).

 

Dia mau mendamaikan empirisme yang mementingkan pengetahuan aposteriori dengan rasionalisme yang mementingkan pengetahuan apriori. Menurut Kant, pengetahuan adalah hasil sintesis antara unsur-unsur apriori dan aposteriori<!–[if !supportFootnotes]–>[xxxi]<!–[endif]–>.

 

Filsafat yang lebih dahulu menyelidiki kemampuan dan batas-batas rasio (condition of posibility = syarat-syarat kemungkinan) sebelum mulai penyelidikannya. Menurut Kant, filsuf sebelum dia beraliran dogmatisme, karena mereka bermetafisika tanpa menguji kesahihan metafisika itu.

 

Rasionalitas menjalankan ilmu pengetahuan. Rasio adalah “rasio teoritis”. Sementara itu, menurut Kant, rasio juga menjadi “rasio praktis”. Rasio praktis adalah rasio yang memberikan perintah kepada kehendak kita. Rasio praktis memberikan perintah mutlak (imperatif kategoris)<!–[if !supportFootnotes]–>[xxxii]<!–[endif]–>. Kant menyatakan bahwa ada tiga hal yang harus diandaikan supaya sebuah tingkah laku atau tindakan adalah niscaya. Ketiga hal itu bukan sesuatu yang dapat dibuktikan melainkan dituntut untuk diniscayakan. Tiga hal itu adalah kebebasan kehendak, keabadian jiwa dan adanya Allah<!–[if !supportFootnotes]–>[xxxiii]<!–[endif]–>. Hal yang tidak ditemui dalam rasio teoritis harus diandaikan atas dasar rasio praktis.

 

Konsekuensi logis atas pertimbangan rasio murni dan rasio praktis adalah ada dua bidang tersendiri, yaitu bidang keperluan mutlak di bidang alam dan lapangan kebebasan di bidang tingkah laku manusia. Kant menggunakan bidang kebebasan dan alam ini dalam satu konsep, yaitu finalitas. Finalitas bersifat subjektif dan objektif. Sifat subjektif finalitas terjadi karena manusia mengarahkan objek pada diri manusia. Ini biasa terjadi dalam pengalaman seni. Sifat objektif finalitas terjadi keselarasan satu sama lain dari benda alam.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

IDEALISME HEGEL

 

Revolusi Immanuel Kant dalam bidang filsafat diteruskan secara radikal oleh aliran idealisme Jerman. Kant memusatkan subjek dalam proses pengenal, tapi ia juga menerima objek belaka di belakang subjek (das Ding-an-sich). Para idelis menolak das Ding-an-sich. Realitas seluruhnya bersifat subjektif. Realitas merupakan hasil aktivitas subjek.

 

Idealisme Jerman terbentuk dalam tiga sistem besar (Fichte, Schelling, dan Hegel). Tiga sistem besar itu bisa disebut sebagai “metafisika monistis”<!–[if !supportFootnotes]–>[xxxiv]<!–[endif]–>.

 

Idealisme Jerman memuncak pada George Wilhelm Friedrich Hegel<!–[if !supportFootnotes]–>[xxxv]<!–[endif]–>. Hegel begitu menekankan rasio. Rasio, menurut Hegel, adalah prinsip ideal yang menyebutkan bahwa realitas seluruhnya harus disetarakan dengan suatu subjek. Salah satu ungkapan Hegel mengenai hal ini adalah: “Semuanya yang real bersifat rasional dan semuanya yang rasional adalah bersifat real”. Realitas seluruhnya adalah proses pemikiran atau “idea” yang memikirkan diri sendiri. Menurut Hegel, realitas seluruhnya adalah Roh yang secara lambat laun menjadi sadar akan dirinya.

 

Pemikiran Hegel semakin dipertegas dengan pemikiran yang memakai metode dialektika. Sistem pemikiran Hegel dibagi dalam tiga bagian besar, yaitu ilmu logika, filsafat alam dan filsafat roh. Dalam sistem-sistem itu, terdapat metode Hegel yang memakai tiga langkah tesis-anti tesis dan sintesis<!–[if !supportFootnotes]–>[xxxvi]<!–[endif]–>.

 

Pemikiran Hegel tentang roh merupakan sintesis besar tentang realitas. Seluruh kenyataan adalah satu kejadian besar dan kejadian itu adalah kejadian roh. Roh adalah Allah. Allah, menurut Hegel, bukan Allah yang transenden tapi Allah yang imanen. Sistem Hegel agak bersifat panteistis<!–[if !supportFootnotes]–>[xxxvii]<!–[endif]–>.

 

Seni – agama dan filsafat. Hegel mempunyai pandangan tersendiri atas seni, agama dan filsafat. Seni mengekspresikan kesatuan ide dan fenomena, kesatuan pikiran dan kenyataan, kesatuan bentuk dan materi. Seni memperlihatkan triade: seni timur (simbolis) – seni klasik (Yunani-Romawi) – seni romantis (seni jaman Hegel).

 

Agama merupakan tahap tengah antara seni dan filsafat. Agama memberi anggapan yang harus dilihat sebagai sesuatu di antara pengamatan (seni) dan pengertian (filsafat). Yang mutlak “diamati” dalam seni, “dianggap” dalam agama, “dimengerti” dalam filsafat. Sejarah agama juga mengandung triade: agama alam (timur) – agama spiritual (Yunani-Romawi) – agama masehi (sintesis).

 

Filsafat adalah pengertian dari Yang Mutlak. Menurut Hegel, Yang Mutlak, keillahian, sungguh-sungguh dimengerti dalam filsafatnya.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

POSITIVISME AUGUST COMTE

 

Filsafat Comte adalah anti metafisika<!–[if !supportFootnotes]–>[xxxviii]<!–[endif]–>. Aliran positivisme Comte menerima fakta yang ditemukan secara positif-ilmiah. Positivisme hanya mau bicara tentang gejala. Segala sesuatu yang lain tidak mempunyai arti. Hanya satu yang punya arti dan penting, yaitu savoir pour prevoir, “mengetahui supaya siap untuk bertindak”. Manusia menyelidiki gejala dan hubungan antar gejala supaya ia dapat meramalkan apa yang akan terjadi.

 

Hukum tiga tahap. Satu hukum positif adalah fakta bahwa pikiran manusia melewati tiga tahap, yaitu tahap teologis, tahap metafisis dan tahap positif-ilmiah. Tahap teologis terdiri dari animisme, politeisme, monoteisme. Tahap metafisis adalah suatu variasi dari cara berpikir teologis. Tahapan metafisis mengganti kekuatan dewa dengan kekuatan yang lebih abstrak, misalnya alam, roh absolut dan lainnya. Tahap positif terjadi jika manusia mencari hakikat, asal dan tujuan segala sesuatu tanpa pertimbangan adanya kekuatan abstrak atau illahi. Hukum alam hanya ditemukan dalam pengamatan dan pengertian akal budi. Hukum tiga tahap intelektualisme manusia adalah tahap menerangkan perkembangan intelektual suku bangsa manusia atau individu manusia pada umumnya.

 

Tugas filsafat adalah menyusun suatu teori umum sebagai rangka untuk hasil-hasil semua ilmu khusus. Makin besar spesialisasi ilmu-ilmu, makin besar pula keperluan suatu sistem homogen di mana semua fakta yang ditemukan dapat dipasang<!–[if !supportFootnotes]–>[xxxix]<!–[endif]–>. Puncak ilmu pengetahuan terletak pada sosiologi. Sosiologi menyelidiki proses hidup dalam kelompok. Sosiologi adalah filsafat sejarah karena Comte memberikan tempat kepada fakta individual sejarah dalam suatu teori umum, sehingga terjadi sintesis yang menerangkan fakta itu. Dalam kerangka sosiologis ini pula, Comte menyebutkan konsep altruisme sebagai cara penyerahan diri manusia terhadap keseluruhan masyarakat.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

MATERIALISME KARL MARX

 

Karl Marx belajar ilmu hukum dan filsafat di kota Bonn dan Berlin. Marx tertarik filsafat Hegel, bahkan ia waktu muda dikenal sebagai penganut Hegelian kiri. Ia berkenalan dengan F. Engels yang nantinya menjadi penyokong kehidupan ekonominya.

 

Teori dan praksis. Waktu Marx muda mempelajari filsafat, dunia ilmiah Jerman sangat diwarnai oleh pemikiran Hegel. Debat dan diskusi aliran Hegelian selalu menempatkan bahwa pemikiran Hegel sebagai sistesis filsafat paling definitif dan sempurna. Marx dalam pengembaraan intelektualnya sampai pada usaha kritik mendasar pada pemikiran Hegel, yaitu meninggalkan teori dan mengarahkan diri pada praksis. Marx melihat filsafat Hegel sebagai “berjalan atas kepalanya”. Teori, interpretasi dan spekulasi tidak menghasilkan perubahan dalam masyarakat. Yang dibutuhkan adalah tindakan. Dunia ide harus ditinggalkan demi kepentingan kenyataan material.

 

Alienasi rohani. Marx belajar dari Feurbach bahwa agama merupakan letak keterasingan manusia atas dirinya dengan dasar proyeksi. Hakikat manusia diberi bentuk dan nama dalam diri “Allah”. Dengan menciptakan konsep “Allah”, manusia diasingkan dari dunia kini dan di sini. Dapat dikatakan bahwa agama adalah hasil proyeksi keinginan manusia. Maka kondisi semacam ini harus dibalik supaya manusia menemukan jati dirinya. Manusia melarikan diri kepada mimpi agama, sebab penderitaan dari struktur sosial-ekonomis mengatasi kekuatan manusia. Manusia membutuhkan “candu” dalam agama. Menurut Marx, tindakan semacam itu bukan terapi. Manusia harus mengatasi alienasi sosial-ekonomi dirinya.

 

Konsep manusia menurut Marx adalah manusia yang konkret, yaitu dalam hubungannya dengan dunia sekitarnya. Hakikat manusia adalah sebagai manusia pekerja. Manusia menciptakan kemungkinan-kemungkinan bagi hidupnya. Ia harus menghasilkan dirinya sendiri. Pertumbuhan dalam manusia menuntut adanya pembagian kerja untuk menghasilkan keperluan hidupnya. Produksi bahan yang diperlukan bagi hidup manusia menjadi dasar terbentuknya pemerintahan, hukum, kesenian, dan keyakinan agama manusia. Cara mengatur produksi itu yang menentukan proses hidup sosial, politik dan rohani.

 

Konsep Marx tentang manusia dan kerja inilah yang nantinya menjadi asas karya Marx. Filsafat Marx adalah materialisme historis. Filsafat Marx sangat dipengaruhi oleh pemikiran Hegel. Pemikiran materialisme historis mau menyatakan bahwa arah yang ditempuh sejarah ditentukan oleh perkembangan sarana produksi yang material. Manusia mengadakan sejarah, tapi manusia tidak bebas dalam mengadakan sejarahnya secara dialektis.

 

Perkembangan sejarah meniscayakan keadaan ekonomis tertentu, yaitu komunisme. Komunisme adalah kondisi di mana milik pribadi akan diganti dengan milik bersama. Perkembangan menuju fase sejarah ini akan berlangsung secara mutlak dan tidak mungkin dihindarkan. Tapi manusia dapat mempercepat proses ini dengan menjadi lebih sadar dan dengan aksi revolusioner yang berdasar atas penyadaran itu.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

FRIEDRICH NIETZSCHE: MEMUTARBALIKKAN NILAI-NILAI

 

Nietzsche merupakan tokoh yang menggali makna hidup manusia. Ia akhirnya menemukan bahwa eksistensi manusia berakhir pada absurditas. Ia melihat bahwa nilai-nilai yang dihayati manusia itu berasal dari kaum lemah yang akhirnya melemahkan dan memper­budak manusia sejati. Karena itu, nilai-nilai yang sekarang dihayati manusia harus dirombak dan harus digantikan dengan nilai-nilai yang berasal dari kehendak manusia yang berkuasa. Nilai-nilai moral, religius itu omong kosong karena yang ada hanyalah nilai-nilai material, badani, duniawi. Marilah kita menyimak bagaimana filsuf ini mengemukakan pandangan-pandangan dan usahanya yang sangat revolusioner itu.

 

Friedrich Nietzsche lahir pada tanggal 15 Oktober 1884 di Rocken, Prusia, Jerman Timur. Ayahnya seorang pendeta Lutheran. Pada tahun 1869 dalam usia 25 tahun, ia menjadi guru besar di Basel. Ia sangat mengagumi musikus Richard Wagner.

 

Pada tahun 1879 ia sudah dipurnawirawankan karena alasan kesehatan. Sesudah itu, ia menggelandang di Swiss, Italia, dan Prancis. Pada tahun 1889 ia sakit jiwa di Torino, Italia lalu dipelihara oleh ibu dan kakaknya. Pada tahun 1900 ia meninggal setelah 10 tahun menderita sakit.

 

Ia menuliskan karya-karyanya antara lain: Morgenrote (1880), Die Frochliche Wissenschaft (1882), Also Sprach Sarathustra (1883), Yenseits von Gut und Bose (1886), Zur Genealogie der Moral (1887), Ecce Homo (1889), Der Antichrist, 1888.

 

Pemikiran Nietzsche bisa diringkaskan sebagai eksistensi manusia lama itu nihilisme, maka mesti diperbaharui. Nihilisme merupakan paham pemikiran yang menyatakan bahwa makna hidup manusia berakhir dalam ketanpaartian. Dalam pemikiran Nietzsche paham ini dipuncakkan dengan menunjukkan nihilisme nilai-nilai yang ada dan ia mewartakan nilai-nilai baru yang harus dihayati secara baru dengan moral baru yang bertolak pada manusia eksis­tensial secara baru pula.

 

Secara sepintas nihilismenya mempunyai arti yang sama dengan usaha melenyapkan – memusuhi nilai-nilai. Baginya nihilisme berarti melenyapkan nilai-nilai imanen, fisik, sejarah, material dengan cara menegaskan berlakunya nilai-nilai absolut, langgeng. Dengan demikian nilai-nilai yang kita pandang absolut, langgeng itu berlaku sebaliknya bagi Nietzsche.

 

Dalam kerangka nilainya, Nietzsche bertitik tolak dari suatu pandangan revolusioner, yaitu bahwa nilai-nilai absolut (nilai-nilai rohani), transenden dan seterusnya itu benar-benar memalu­kan, melemahkan manusia sejati yang merupakan kumpulan nilai remeh dan lemah yang diajarkan kaum imam dan penguasa yang mengajak umat manusia untuk baik, tunduk, rendah hati sehingga membuat manusia seperti unta yang mesti membawa semua beban kehidupan di punggungnya.

 

Bagi Nietzsche sebenarnya hanya ada nilai-nilai otentik yang sejati, yaitu nilai-nilai material, nilai-nilai tubuh, nilai-nilai hidup, nilai-nilai dari bumi ini di dunia ini.

 

Nietzsche sendiri sebelum meninggal berkata bahwa dalam seluruh hidupnya ia mempunyai satu tujuan, yaitu melenyapkan nilai-nilai transenden, rohani yang menjadi dasar kebudayaan Barat dan mau melaksanakan penggantian nilai-nilai. Dengan itu ia mau memulai suatu kebudayaan baru “dengan bangkit kembali, menapak selangkah lebih tinggi dari keadaan dan pandangan hidup yang lemah dan sakit menuju tapak konsep-konsep yang lebih sehat, menuju nilai-nilai kepastian dan kekayaan diri pribadi dalam hidup yang penuh. Sayalah guru itu dan dengan kepalan tanganku, aku siap merobek nilai-nilai yang melemahkan untuk menggantinya”. Semua karangan dan tulisan dari tahun 1888-1889 mengarah ke ambisi tersebut sebagai karya sistematis tentang nihilisme nilai-nilai dan usaha penggantiannya (sampai ia sendiri lalu tidak waras).

 

Jika ditelusuri, ada dua bentuk pemikiran dalam jalan pemi­kiran nihilisme Nietzsche. Di satu pihak, pemikirannya bersifat merombak, mendobrak, dan menghancurkan (una pars destruens). Di sini yang menonjol adalah pola pemikiran untuk memusnahkan nilai-nilai kekal, absolut dengan seluruh wujud-wujudnya yang diketahui terutama moral, agama, dan filsafat yang mendukung sistem nilai absolut tersebut. Ia menyerangnya dengan sistematis dan garang. Di lain pihak pemikirannya mempunyai pola membangun (una pars construens) yang meliputi uraian teori baru tentang nilai-nilai lalu disusul konsepsi baru mengenai realitas (itu berarti konsep­si vital dan dionisius).

 

Dari empat buku pokoknya, tiga buku ditulis untuk pola yang pertama, yaitu merombak nilai-nilai absolut dan satu buku untuk pola yang kedua, yaitu untuk membangun dasar nilai-nilai baru. Seluruh karyanya berjudul Volontadi Potenza (Kehendak untuk Berkuasa) atau Transvalutasi (Penggantian Semua Nilai).

 

Ia merencanakan membagi Transvalutasi dalam :

 

buku I: Antichrist, sebagai usaha untuk mengritik habis-habisan Kristianisme.

 

buku II: Roh yang Merdeka (Lo Spirito Libero), sebagai kritik terhadap filsafat yang merupakan usaha yang nihil.

 

buku III: The Immoralist, sebagai kritik terhadap moral yang merupakan ketidaktahuan yang paling kekanak-kanakan.

 

buku IV: Dionisius, sebagai sebuah filsafat tentang kembali­nya keabadian.

 

Ia membuat strategi yang cukup pintar dengan menjual pemikiran pertamanya di pasar, lalu nilai-nilai barunya ia masukkan untuk mengganti nilai-nilai lama yang mau dibasminya.

 

Untuk mudahnya kita akan memulainya dengan melihat pars construensnya yang merupakan konsep yang hidup tentang realitas. Dalam visinya, realitas itu muncul sebagai ledakan dahsyat dari kekuatan hidup. Nietzsche menyebutnya sebagai “sebuah kekuatan hebat tanpa awal dan tanpa akhir, sang keindahan yang membebaskan diri dari kekuatan cinta dan kebencian, suka cita dan duka, keberanian dan ketakutan, kebebasan dan ketundukan yang menyeruak keluar, yang membebaskan diri secara dahsyat tanpa aturan, tanpa kontrol apa pun.

 

Realitas merupakan hidup itu sendiri dalam semua ungkapannya yang paling mencekam, menarik. Hidup itu sendiri merupakan kehendak untuk berkuasa yang tak terukur, tak terbilang, tak mampu dikalkulasi.

 

Nilai tertinggi bagi Nietzsche sama dengan kehendak untuk berkuasa, lebih persis lagi sama dengan kualitas maksimal kuasa yang berhasil direngkuh dan dimiliki oleh si manusia. Filsafatnya sama dengan jawaban tak bersyarat untuk menjawab “ya” terhadap hidup yang menggeser semua “tidak”, semua larangan, dosa, dakwaan. Perbedaan “ya” dan “tidak”, positip dan negatif, baik dan buruk merupakan kejahatan yang tidak bisa diampuni terhadap kehidupan.

 

Berkata “ya” pada hidup merupakan suatu kekuatan. Mengatakan “tidak” pada hidup merupakan penurunan derajad. Hidup adalah nihilisme. Siapa pun yang berkata “ya” kepada hidup akan bebas termasuk juga bila itu termasuk yang imoral. Yang menjawab “tidak” pada hidup itu termasuk budak, juga bila itu termasuk sesuatu yang moral/baik.

 

Untuk semua orang kuat dan alamiah, mereka membuat semuanya bersama-sama dalam satu tindakan hidup baik cinta maupun benci, balas budi atau balas dendam, kebaikan dan kemarahan, penolakan dan pengiyaan. Bila baik, manusia perlu tahu juga yang jelek. Bila jelek, itu disebabkan karena manusia tidak lagi tahu apa yang baik.

 

Sebagaimana yang dirumuskan Zarathrusta, hukum tertinggi hidup adalah perlu untuk “tenggang rasa” pada tiap “penolakan” atau penerimaan dalam hidup. Kristianisme adalah racun terhadap nilai ini, imoral, melawan hidup, melawan natura. Dalam konsepsi realitas Nietzsche, nilai “baik” sebagai ketaatan terhadap hukum moral dipandang sebagai “parasit,” artinya hidup dengan memper­alat kehidupan sendiri, seperti benalu yang menghisap darah hidup, seperti epikuris yang menikmati “kebahagiaan kecil” dengan menolak kebahagiaan besar yang imoral.

 

“Nilai baik” adalah kambing hitam insting nihil sebagai akibat berkata tidak pada hidup “la sua affermazione piu attenua­ta e che non essere e meglio di essere, che la vonta del nulla la piri valore della volonta di vivere; quella piu rigorosa e che il nulla e la cosa piu desiderabile, che questa viata, come opposto del nulla, e assolotamente priva di valore (Nietzsche, hal 318). Lalu apa yang dimaksud Nietzsche dengan “HIDUP” itu?

 

Hidup yang selalu menjadi tema sentral Nietzsche mempunyai batas-batas yang jelas, yaitu hidup di dunia ini, fisik, dalam tubuh karena tidak ada dunia lain di luar dunia material, tidak ada pula hidup badani kita di sini. Manusia lahir untuk berada di bumi ini (esistere sulla terra). Roh/jiwa yang semestinya menjadi subjek eksisitensi di dunia sekarang itu tidak ada. Manusia hanyalah yang bertubuh ini: “saya adalah si tubuh ini seluruhnya tanpa yang lain.”

 

Dunia Nietzsche meluas, merangkum imanensi dunia ini. Memi­sahkan dunia idea yang asli, yang sejati dengan dunia semu (di bumi ini) merupakan dusta yang amat memalukan yang dibuat Plato dan Kristianisme. Dunia hanya ada satu, yaitu yang ada di depan mata kita. Dalam dunia ini tidak ada lagi tempat bagi Tuhan. Zarathrusta mengatakan bahwa Tuhan sudah mati. Sesungguhnya Tuhan tidak pernah ada karena tidak mampu ada.

 

Tuhan sama dengan proyeksi kebutuhan-kebutuhan kaum lemah. Tuhan ditemukan oleh jiwa yang lemah, jiwa yang sakit, yang diracuni oleh perasaan-perasaan luhur melawan orang-orang yang benar-benar sehat, kuat, dan kuasa.

 

Tuhan adalah hasil kreasi manusia sebagaimana dewa-dewa yang lain pula. Derita dan ketidakmampuanlah yang menciptakan semua yang suci di seberang dunia nyata ini. Manusia kelelahan karena menari sendiri dengan meloncat-loncatkan kakinya ke maut untuk menggapai puncak, kelelahan karena tidak memahami yang disebabkan karena tidak mampu mengingini. Tubuhlah yang menentukan langkah-langkah dan bukan jari telunjuk yang menunjuk ke atas.

 

Dunia manusia dan dunia non manusia, dunia yang dikejar sebagai adikodrati itu tidak lain adalah surga dari ketiadaan yang merupakan rahim dari Ada, Being. Hanyalah si sakit, si lemah yang meremehkan tubuh dan kehidupan, serta menggantinya dengan surga dan tetesan darah penebusan namun toh akhirnya tetap memutuskan hubungan mereka dari tubuh mereka sendiri serta dari bumi (dalam ketiadaan).

 

Hidup ini ada dalam perjalanan gemilangnya melalui satu jurusan perkembangan dari tahap manusia. Super manusia adalah makna dari bumi ini. Kehendak berseru: manusia super adalah arti dari bumi (Nietzsche, idem hal 6) dan inilah undangan dari Nabi Zarathrusta untuk umat manusia ( BM, 78).

 

Zarathrusta mau mengajar umat manusia mengenai makna dari keberanian mereka yang tidak lain adalah manusia super. Hidup, kehendak berkua­sa, mengekspresikan diri paling puncak pada manusia super. Di sana nilai seluruhnya mewujudkan diri, menemukan realisasinya yaitu menjadikan kehendak kuasa mengada dan diadakan dalam ketegangan-ketegangan yang agresif dan meledak-meledak dalam jatung hati manusia.

 

Super manusia adalah manusia yang tahu mengikuti dan langsung sambung pada irama tari hidup. Dialah yang menerima seluruhnya, dialah yang menghargai seluruhnya, dialah yang mengagungkan seluruhnya, dialah yang tidak pernah menolak apa-apa yang dianu­gerahkan oleh hidup yaitu baik maupun buruk, indah maupun buruk, suka maupun duka.

 

Super manusia merupakan formula sesanti dari penegasan “ya” penuh yang lahir dari kepenuhan diri yang samasekali tidak pernah mau peduli dengan duka sendiri, kesalahan sendiri, problem, dan masalah eksistensi.

 

Untuk dapat mencapai manusia super, manusia mesti melewati metamorfosis ganda, yaitu:

 

- metamorfosis pertama, akan mengubah eksistensi unta berbeban dan mudah taat (yaitu manusia baik, rendah hati, tunduk, religius, moralis) menjadi singa yang agresif (yaitu roh kebebasan, otonom, tuan pada diri sendiri, penentu mutlak tindak-tanduk dan perbuatannya sendiri).

 

- metamorfosis kedua, akan mengubah manusia dari singa yang ganas tadi menjadi kanak-kanak murni yang selalu mengagumi dan mencintai realitas dalam semua ungkapannya dan sisinya. Ia akan berseru gembira dan menyatu dengan hidup.

 

Hidup yang dipunyai manusia super dalam ujudnya yang paling penuh pada saat yang sama mempunyai pula hukum-hukumnya yang tegas yang oleh Nietzsche diungkap dengan istilah eterno ritorno (pulang ke keabadian). Artinya semua yang ada secara abadi kembali dan kita juga kembali. Kita sudah menyatu dengan semua dan semua ke kita. Hadirlah tahun menjadi yang sama dengan sebuah roda putar. Semua harus membalik lagi agar selalu dapat habis.

 

Pada dentang waktu tersebut semua tahun sama baik yang besar maupun yang kecil. Semua akan kembali lagi, berputar lagi secara abadi dalam lingkar putar eksistensi. Semua akan mati dan akan bangkit lagi. Semua yang pecah berkeping-keping akan diutuhkan kembali. Secara kekal semuanya akan membangun rumah yang sama dari eksistensi. Semuanya saling dipisahkan dan diruntuhkan lagi. Yang selalu setia pada diri sendiri adalah domba eksistensi.

 

Pada setiap penantian, waktu dan eksistensi kembali mulai berputar lagi . Lautan kehidupan tidak dapat melahirkan selain menjadi rahim dari serentetan eksistensi. Itu pun selalu membaharui diri kembali secara kekal dalam roda tertutup dan putar yang pasti.

 

Dalam hukum kembali ke keabadian kekal tentu saja termasuk manusia di dalamnya, baik manusia kecil maupun besar, baik pengecut, baik, pemberani, maupun manusia super. “Manusia secara kekal kembali! Manusia yang lebih najis, rendah akan kembali juga” , manusia super juga akan kembali secara kekal karena keduanya ambil bagian dalam tari irama kehendak kuasa dari kehidupan. Figur simbol dari yang “ya” terhadap hidup yang terus berputar kembali secara abadi mempunyai model­nya, yaitu Dionisius.

 

Di sini kuletakkan Dionisius dari orang-orang Yunani, yaitu penegasan “ya” tegar yang religius terhadap dunia dari dalam hidup tanpa satu titik “tidak” pun. Dionisius adalah simbol waktu dari hidup yang penuh dan dari penerimaannya yang riang terhadap hidup. Dionisius melambangkan becoming (menjadi) hal-hal yang dalam kebutuhan serta kemendesakannya menyatakan seluruhnya menjadi satu baik duka nestapa maupun suka cita, ketakutan maupun keberanian, cinta maupun dengki. Di samping itu Dionisius melam­bangkan pula kondisi manusia super yang menerima semua ekspresi saling bertentangan dari eksistensi dengan penuh syukur (BM 80).

 

Dalam kerangka karyanya “Perubahan/penggantian nilai-nilai,” Nietzsche secara sistematis menyusun perlawanan dan perang tanding antara figur Dionisius dengan tokoh Kristus. Nietzsche mau mengungkapkan motif yang menunjukkan ungkapan yang paling menyeluruh dari nihilisme, sikap “tidak” terhadap hidup, roh menyerah, takluk serta penyangkalan diri.

 

Bisa dikatakan bahwa Dionisius adalah Tuhannya Nietzsche. Dalam salah satu karyanya yang terakhir Nietzsche menulis, “Setelah mendapat pukulan terberat palu dari Tuhan Yesus, juga setelah matinya Tuhan dari orang-orang Kristiani, dewa-dewa baru masihlah mungkin muncul (Nietzsche sendiri tiap kali mengingatkan naluri religius, yaitu naluri hidup bagi dewa-dewa baru tersebut).

 

Di sini Nietzsche melancarkan perang pembasmian melawan nilai-nilai absolut serta melawan ideologi-ideologi pokok yang mendasari nilai-nilai tersebut, yaitu filsafat, moral, agama, (Kristiani) .

 

Tuduhan pokok Nietzsche terhadap filsafat, moral, agama Kristen yang mendukung nilai-nilai absolut adalah karena ketiga-tiganya membentuk dan membina dusta kolosal yang membelenggu umat manusia dan menghalanginya untuk meneguk cawan kehidupan secara bebas. Ia mengatakan dustalah kalau ada nilai-nilai mutlak lain di luar hidup ini, dustalah nilai-nilai transenden di seberang hidup sekarang kini ini, dustalah bila dikatakan bahwa ada jiwa/roh abadi dalam diri manusia, dalam tubuhnya, dustalah bila dikatakan ada dunia akherat yang spiritual di seberang dunia material yang ada di depan mata ini, dan terutama dustalah bila ditegaskan bahwa manusia tidak mampu menjadi yang tertinggi lantaran di atas manusia hanya ada Tuhan! (BM 81).

 

Menurut Nietzsche, moral merupakan gumpalan kondisi-kondisi pemelihara manusia-manusia malang, lemah sebagian atau gagal seluruhnya. Dari buku ini jelaslah bahwa Nietzsche sebenarnya mau memaklumkan perang terhadap moral karena moral merupakan wujud paling laknat dari kehendak dusta yang mengajari untuk menilai rendah dan meremehkan naluri-naluri dasariah pokok dari hidup.

 

Moral hanya mengajar nilai-nilai dekaden, keruntuhan sebagai nilai-nilai tertinggi. Moral mengajak untuk mendorong orang berlaku dan melaksana­kan tindak-tanduk muluk yang tidak ada karena tidak adalah tindakan altruis itu, tidak ada pulalah tindakan suci. Moral mengajar keutamaan-keutamaan yang tidak ada (jiwa, roh, kehendak bebas). Moral juga mengajari hakekat-hakekat yang tidak ada, misalnya Tuhan, malaekat. Moral mendidik manusia pada ordo yang tidak ada. Adakah ordo moral di dunia dengan hadiah/pahala dan hukuman? Dengan semua ajaran dan petunjuk dusta ini, moral merendahkan, malahan meniadakan:

 

a. nilai sungguh-sungguh dari tindakan manusia yaitu egoistis.

 

b. nilai tubuh.

 

c. tipe-tipe manusia yang sungguh-sungguh berharga, bernilai, naluri-naluri manusia yang berharga.

 

d. seluruh motif dan dasar hidup yang bertolak dari mau tahu.

 

Cara berpikir di atas yang menjunjung tinggi salah satu macam manusia, berjalan dan bekerja dari pengandaian absurd sebagai berikut: memandang baik dan jahat sebagai realitas yang berlawan­an satu sama lain (dan bukan sebagai konsep pelengkap dari nilai yang sebenarnya merupakan realitas), menasehati untuk memihak ke yang baik dengan alasan merasa bahwa yang baik itu akan menolak dan menentang yang jahat sampai ke akar dasarnya dan dengan begitu cara berpikir ini telah menolak hidup dalam realitas yang mempunyai baik “ya” maupun “tidak” dalam seluruh nalurinya. Barangkali tidak ada ideologi yang begitu berbahaya selama ini selain kehendak untuk berbaik tersebut karena di sini diluhurkan tipe manusia. Alim fanatik yang membawa hidup pada keilahian; dan hanya ditunjuk kelakuan si alim sebagai kelakuan baik, yang ilahi (Nietzsche, Framenti Postumi, hal. 260).

 

Dalam seri karangan pendek lain, Nietzsche lebih agresif dan ganas dalam mengecam moral. Ia mengatakan bahwa moral merupakan kandang, sangkar, penjara yang memperkirakan dengan jeruji-jeruji besi akan berguna bagi kebebasan yang tertutup ke dalam, tempat kubang binatang-binatang yang menerima perjuangan dengan kebuasan roh yang bernama “iman”.

 

Dalam kata pengantar karyanya Genealogia della Morale, Nietzsche menulis bahwa kita memerlukan sebuah kritik terhadap nilai-nilai moral yang mesti mulai dengan mempertanyakan ni­lai/harga diri nilai-nilai ini.

 

Nietzsche mempertanyakan bahwa sampai hari ini mereka mempro­pagandakan perkembangan kebahagiaan manusia padahal itu tidak lain hanyalah ungkapan pemiskinan, degenerasi kehidupan; atau sebaliknya mesti diwahyukan, diwartakan kepenuhan hidup sendiri, kekuatannya, kehendak hidup itu, keberaniannya, kepastian dan jaminannya, masa depan hidup itu sendiri (no 3). Terhadap perta­nyaan-pertanyaan sendiri, Nietzsche menjawab lebih dengan “suara perutnya daripada otaknya”.

 

Nietzsche beranggapan bahwa sumber kesalahan berat dari nilai-nilai mutlak adalah Plato yang merasa menemukan adanya Roh yang baik dalam dirinya.

 

Nietzsche menganggap bahwa metafisika mempunyai tiga kepalsu­an, yaitu:

 

a. palsu terhadap diri sendiri.

 

b. palsu terhadap hal-hal yang ada.

 

c. palsu terhadap manusia.

 

Palsu terhadap diri sendiri. Metafisika bersifat palsu terhadap diri sendiri karena tidak tahu-menahu tentang motivasi sejati dari teori/ajaran yang sungguh-sungguh.

 

Palsu terhadap hal-hal yang ada. Metafisika bersifat palsu terhadap hal-hal yang ada karena menghantar masuk adanya hukum kedua dari realitas, yaitu adanya idea, Tuhan, substan­si terpisah, Roh mutlak, dan seterusnya. Dengan itu metafi­sika meniadakan nilai-nilai, menghampakan nilai efektif mereka.

 

Prinsip perlawanan yang mendukung kerangka pendapat dunia yang sejati tempat pencarian, penapakan jalan ke sana tak bisalah bertentangan dalam dirinya sendiri, tak bisalah merubah, tak mungkin menjadi, tak mungkin pula mempunyai prinsip dan tujuannya sendiri. Salahlah bila percaya pada ungkapan-ungkapan alasan ukuran realitas untuk menguasai realitas demi memberi tanda kurung bagi realitas. Maka semuanya merupakan bencana:

 

a. Bagaimana mungkin mampu membebaskan diri dari dunia palsu, dunia tidak sejati? Padahal hanya ada satu dunia ini.

 

b. Bagaimana mungkin menjadi diri sendiri secara penuh apabila tidak menghormati dunia nyata ini?

 

c. Seluruh orientasi nilai-nilai berjalan ke arah “menje­lek-jelekkan dan memfitnah hidup”

 

Karena itu, kelirulah metafisika manusia yang mau membuang “being sejati” serta mau menindas (mengekang) afeksi, insting, naluri, kekuatan kuasa, dan mereduksi semuanya ke kepala, akal budi, dan pikiran! Semua yang berkait pada yang bukan rasio, yang bebas, yang naluriah, yang dibenci oleh para metafisikawan aliran keliru tersebut. Konsekuensinya, mereka menolak elemen fundamen­tal dalam essere (ada pada dirinya sendiri), dan menerima sebagai yang utama apa yang disebut rasionalitas dan finalisme absolut.

 

Di sini kita melihat Nietzsche memang mau membasmi agama yang melawan hidup dan menggantinya dengan agama dari kehidupan (agama dari Dionisius) dan berusaha menyingkirkan moral dekaden untuk menggantinya dengan moral yang dinamis (moralitas manusia super). Cara yang ditempuhnya adalah dengan melebur sampai ke akar-akarnya filsafat being/essere yang sama dengan metafisika yang membuahkan/menjadi semua filsafat yang menjauhkan diri dari bumi, ia mau menggantinya dengan filsafat yang setia pada kehendak yang kuasa. Filsafat tidak bisa lagi berkeinginan abstrak, tujuan-tujuan spekulatif tetapi mesti menjadi praktis dan konkret.

 

Filsuf-filsuf sejati adalah mereka yang memimpin/berkuasa memerintah dan mampu menegaskan ini “harus hidup kembali!” harus hidup begitu! Mereka mesti menentukan pertama-tama “ke mana” dan “demi tujuan mana” manusia hidup dan begitu menawarkan lengkap pokok-pokok dasar filsafat menuju masa depan di dalam dan melalui tangan kreatif si manusia sendiri yang menjadi alat, gaman, piranti untuk mencapai tujuan.

 

“Mengerti” mereka mesti menjadi sama dengan mencipta! Pencip­taan mereka mesti menjadi penentuan hukum dari kehendak kebenaran yang adalah kehendak kuasa.

 

Fungsi sejati filsafat menurut Nietzsche mesti sama dengan peran seni, yaitu sebagai hasil karya mendalam penciptaan/trans­formasi material menjadi seni tetapi bukan demi indah sendiri tetapi demi menjadikan cermin, pantulan kekuatan dahsyat manusia, cermin bias kekuatan/daya hidup. Filsafat mesti mempunyai kekuat­an dari dalam yang magis yang:

 

mampu mengubah setiap hal,

 

mampu menilai lagi semua nilai,

 

mampu membaharui lagi semua nilai,

 

mampu membebaskan manusia dari semua belenggu metafisika, moral, Kristianisme, begitu rupa sehingga mampu berucap “lan­tang” yang tegar pada semua yang ada pula bila hal-hal tersebut di jaman lalunya merupakan hal terlarang, tidak dihargai dan dipandang jahat (berdosa).

 

Dalam salah satu karangan, Nietzsche menulis Seni Filsafat dengan tugas rangkap tiga, yaitu (fungsi filsafat):

 

a. filsafat mesti menjadi penebusan bagi manusia dalam soal pemahaman (BM 90-91) dan problema eksistensi manusia.

 

b. filsafat mesti menjadi penebusan tindakan konkret manusia agar mampu menjadi daya hidup untuk menausia yang mau menjadi pahlawan dengan kekuatan kehendaknya.

 

c. filsafat mesti menjadi penebusan bagi orang-orang malang sebagai jalan masuk untuk mengangkat mereka yang menerima sengsara sebagai yang dikehendaki, dilahirkan menuju kesadaran bahwa sengsara itu kenikmatan.

 

Model ideal filsuf seniman menurut Nietzsche adalah tokoh Dionisius. Dialah filsuf sejati, unik dan satu-satunya yang mengetahui mengambil bagian secara kreatif dalam tarian abadi kehidupan cerah masa mendatang. Dia juga mengetahui menempatkan dan menampilkan diri sebagai pencipta, sang pemberi pada segala apa yang ada. Demikianlah Nietzsche tidaklah kebetulan bila dalam bagian akhir tulisannya memilih memberi judul Dionysos Philoso­phos untuk bagian itu.

 

Dengan judul tersebut, ia mau merangkum seluruh makna kegiat­an sastranya sebagai berikut, “Tulisan-tulisanku, buku-bukuku, dari garis ke garis, dari baris ke baris merupakan pantulan-pantulan nyata dari kehendak hidup. Tulisan-tulisan itu merupakan hasil karya sang pencipta kehidupan, menjadi duta dari hidup itu sendiri”.

 

 

 

PUSTAKA REFERENSI

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

Buku-buku berikut ini baik untuk dijadikan referensi memperluas pengetahuan di bidang filsafat.

 

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

 

1. Beekman, Gerard, Filsafat, Para filsuf, Berfilsafat. Terj. Rivai, RA, Jakarta: Penerbit Erlangga, 1984

 

2. Bertens, Kees, Filsafat Barat Dalam Abad XX, jilid I, Jakarta: Gramedia, 1981

 

3. ____________, Filsafat Barat Dalam Abad XX, jilid II, Jakarta: Gramedia, 1985

 

4. ____________, Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1992

 

5. ____________, Sejarah Filsafat Yunani, Yogyakarta: Kanisius, 1999

 

6. Copleston, F., A History of Philosophy, 9 jilid, London 1946 – 1975

 

7. Drijarkara, N., Percikan Filsafat, Jakarta: PT. Pembangunan, 1981

 

8. Durant, W., The Story of Philosophy, New York, 1952

 

9. Hamersma, Hary, Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern, Jakarta: Gramedia, 1983

 

10. Hadiwijono, Harun, Sari Sejarah Filsafat I, Yogyakarta: Kanisius, 1980

 

11. _______________, Sari Sejarah Filsafat II, Yogyakarta: Kanisius, 1980

 

12. Peursen, Van C.A., Orientasi di Alam Filsafat, Jakarta, 1980

 

13. Steward, David, Fundamentals of Philosophy, New Jersey, 1996

 

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s